SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Hingga Rabu (2/7/2025), pencarian terhadap Devita Sari Anugraheni, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diduga melompat dari Jembatan Jurug masih belum membuahkan hasil.
Devita yang tercatat sebagai mahasiswi semester akhir Prodi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi UNS, hilang sejak Senin (1/7) sekitar pukul 12.00 WIB.
Aksi nekat itu disaksikan langsung oleh seorang pengemudi ojek online bernama Hariadi yang saat itu sedang melintas di Jembatan Jurug.
“Saya lihat cewek itu sudah ancang-ancang berdiri di atas besi. Saya sempat berhenti, saya teriak, ‘Mbak, sudah, enggak usah, turun saja!’ Tapi belum sempat saya dekati, dia sudah terjun ke bawah,” ungkap Hariadi.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Pos Surakarta, BPBD, dan relawan terus melakukan pencarian secara intensif sejak hari pertama.
Namun, sejumlah kendala membuat proses evakuasi menjadi sangat menantang.
Koordinator Basarnas Pos Surakarta, Gohan Wijayana, menjelaskan bahwa proses pencarian hari kedua dilakukan dengan kekuatan penuh.
“Hari ini pencarian kami lanjutkan dengan membagi tim ke dalam tiga crew utama. Total personel gabungan yang dikerahkan mencapai kurang lebih 100 orang,” jelasnya.
Tiga metode digunakan dalam proses pencarian:
1. Penyelaman di titik jatuh yang diduga sebagai lokasi awal korban menghilang di bawah Jembatan Jurug.
2. Penyisiran permukaan air menggunakan dua perahu karet sejauh 3,06 kilometer hingga ke Jembatan Ringroad.
3. Penyisiran darat oleh relawan dan warga di sepanjang tepi Bengawan Solo.
Baca Juga: Tarif Ojol Naik 15 Persen? Ekonom: Konsumen Bisa Kabur, Driver Malah Merugi
Sayangnya, upaya pencarian menghadapi tiga kendala besar:
- Luasnya area pencarian yang terbuka dan memanjang membuat pemantauan menjadi sangat rumit.
- Kondisi air yang keruh, sehingga menyulitkan pencarian secara visual maupun penyelaman.
- Arus bawah sungai sangat deras, membahayakan keselamatan tim penyelam.
Sebagai bentuk optimalisasi, alat deteksi bawah air AquaEyes mulai digunakan sejak Rabu pagi.
Alat ini diharapkan dapat membantu mendeteksi objek di dasar sungai meskipun dalam kondisi air yang keruh.
Tim SAR juga telah melakukan pengebloran—pemantauan menggunakan lampu sorot—sejak Selasa malam pukul 19.00 WIB hingga Rabu pagi pukul 06.00 WIB, namun hasilnya masih nihil.
Gohan mengimbau kepada masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo agar ikut membantu proses pencarian.
“Mohon kerja sama dari warga. Jika melihat benda mencurigakan di sungai atau tercium bau tak sedap, mohon segera melapor ke petugas,” ujarnya.
Tak jauh dari titik korban melompat, ditemukan sepeda motor Honda Beat merah putih AA 3757 CY, sebuah tas hitam, ponsel, dan buku catatan kecil. Dalam buku tersebut ditemukan pesan terakhir Devita yang ditulis tangan:
“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri. Terkadang, aku bukan diriku. Aku capek. Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan. Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku nggak... Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.”
Surat tersebut mengindikasikan beban mental yang berat dan menjadi perhatian pihak berwenang untuk penyelidikan lebih lanjut.
Catatan: Jika Anda atau orang di sekitar Anda sedang mengalami tekanan mental, jangan ragu untuk menghubungi psikolog, konselor, atau layanan bantuan kesehatan jiwa. (lz)
Editor : Laila Zakiya