SOLOBALAPAN.COM – Keheningan Bengawan Solo kembali pecah oleh tragedi memilukan.
Seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) dilaporkan nekat melompat dari Jembatan Jurug, Selasa (1/7/2025) siang.
Di lokasi kejadian, ditemukan sepeda motor, tas berisi ponsel dan kartu identitas, serta sebuah buku catatan kecil dengan tulisan tangan yang diduga sebagai surat wasiat.
Isi pesan terakhirnya menggambarkan betapa berat beban mental yang ditanggung korban.
Pesan tersebut berbunyi:
“Aku pergi ya, jangan salahkan keluarga atau tempat instansi aku kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri. Terkadang, aku bukan diriku. Aku capek. Maaf untuk Bapak Dr. Sumardiyono, S.Km karena telah menghianati dan berjanji untuk bertahan. Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku nggak... Aku capek, Bu. Maaf aku tak sekuat ibu.”
Kalimat seperti, “Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Aku capek. Maaf aku tak sekuat Ibu.” bukan hanya sekadar perpisahan, melainkan jeritan sunyi dari jiwa yang terluka dan tak sanggup menanggungnya seorang diri.
Tragedi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi semua pihak—kampus, masyarakat, bahkan keluarga—bahwa kesehatan mental bukan sekadar urusan individu.
Ini adalah isu kolektif, yang jika diabaikan, bisa berujung kehilangan nyawa generasi penerus bangsa.
Tekanan Nyata di Balik Gelar Sarjana
Menjadi mahasiswa bukan sekadar meraih indeks prestasi dan wisuda. Ada beban tak kasat mata yang seringkali tak disadari: tekanan akademik, tuntutan sosial, kerapuhan finansial, dan ketidakpastian masa depan.
Di lingkungan kampus, banyak mahasiswa memilih diam. Takut dianggap lemah, malu dicap “tidak waras”, atau sekadar tidak tahu harus curhat ke siapa.
Butuh Lebih dari Sekadar Seminar Kesehatan Mental
Selama ini, kampus-kampus sudah sering menggelar seminar kesehatan mental. Namun, pendekatannya cenderung formal dan kaku.
Padahal yang dibutuhkan mahasiswa adalah ruang aman untuk didengar tanpa dihakimi, tempat di mana mereka bisa berkata, “Aku tidak baik-baik saja,” dan tetap diterima.
Layanan konseling harus lebih dari sekadar formalitas. Kampus perlu mengintegrasikan pendekatan kesehatan mental ke dalam sistem pendidikan: pelatihan dosen sebagai pendamping psikososial, peer support system, serta layanan psikolog yang mudah diakses dan tidak berbayar.
Saatnya Hapus Stigma, Bangun Empati
Indonesia masih tertinggal jauh dalam literasi dan empati terhadap isu kesehatan mental.
Padahal, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), lebih dari 6 persen penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional. Mahasiswa termasuk dalam kelompok yang rentan.
Momen ini harus menjadi titik balik. Kita harus berhenti menilai seseorang hanya dari nilai akademik dan prestasi.
Harus lebih peka jika ada teman yang tiba-tiba menarik diri, berubah sikap, atau mulai mengutarakan rasa lelah secara emosional.
Catatan untuk Kita Semua
Tragedi di Jembatan Jurug bukan sekadar berita. Ia adalah isyarat keras bahwa di balik senyum mahasiswa, mungkin tersimpan luka yang dalam.
Sudah waktunya kampus, keluarga, dan kita semua bersatu: menyelamatkan yang rapuh, mendengar yang lelah, dan mengulurkan tangan sebelum semuanya terlambat. (dam)
Editor : Damianus Bram