SOLOBALAPAN.COM – Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Karanganyar, khususnya di wilayah Kecamatan Gondangrejo dan Mojogedang, mengalami krisis siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026.
Fenomena ini memaksa para guru mengambil langkah ekstrem, seperti door to door mencari murid ke rumah-rumah warga.
SDN 2 Wonorejo Hanya Dapat 5 Pendaftar
Berdasarkan pantauan RadarSolo.com, hingga pekan terakhir Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang berlangsung dari 2–24 Juni 2025, SDN 2 Wonorejo, Gondangrejo hanya mencatat lima calon siswa kelas 1.
Padahal sekolah tersebut berada cukup dekat dengan akses jalan utama.
"Kondisi seperti ini sudah terjadi dalam lima tahun terakhir," ungkap Sri Maryani, salah satu guru di SDN 2 Wonorejo, kepada Radar Karanganyar.
Orang Tua Beralih ke Sekolah Swasta
Sri menyebut, semakin banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta atau lembaga pendidikan milik yayasan.
Selain faktor gengsi, fasilitas lebih lengkap dan promosi yang masif dari sekolah swasta dinilai menjadi alasan utama.
"Kami berharap dinas tidak tinggal diam. Perlu strategi dan intervensi agar sekolah-sekolah yang kekurangan murid bisa kembali diminati," ujarnya.
Para guru berharap adanya perhatian lebih dari Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar, khususnya dalam hal pemerataan jumlah peserta didik dan strategi promosi yang adil bagi sekolah negeri.
Kondisi Serupa di Mojogedang
Masalah ini tak hanya terjadi di Gondangrejo. Di wilayah Kecamatan Mojogedang, fenomena yang sama juga terjadi.
Beberapa sekolah dasar negeri dilaporkan masih kekurangan murid hingga hari-hari terakhir pendaftaran.
"Kalau kekurangan ya sama saja, mas. Di sini (Mojogedang) juga banyak SD negeri kekurangan murid karena sekolah swasta menawarkan fasilitas lebih," jelas Hutama, seorang guru di wilayah tersebut.
Pekerjaan Rumah Serius bagi Pemerintah
Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemangku kebijakan daerah. Di tengah masifnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan mutu pendidikan, kesenjangan minat antara sekolah negeri dan swasta perlu ditangani secara sistematis.
Jika tidak ada langkah konkret, keberadaan SD negeri di daerah pinggiran akan terus terancam, dan nasib para guru pun ikut dipertaruhkan. (rud/dam)
Editor : Damianus Bram