SOLOBALAPAN.COM – Aris Hantoro, warga Kecamatan Gondang, Sragen, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas insiden penyebaran video penyiksaan anjing yang sempat viral dan menimbulkan keresahan masyarakat.
Video yang memperlihatkan seekor anjing dikuliti tersebut awalnya diunggah Aris ke status WhatsApp pribadinya pada Sabtu (7/6/2025). Namun, ia mengaku tidak mengetahui isi video secara menyeluruh.
"Saya nggak lihat utuh, tak pikir hanya nguliti biasa," ungkap Aris dikutip dari RadarSolo.com, Senin (9/6/2025).
Bermula dari Status WhatsApp, Berujung Viral
Baca Juga: Video Anjing Dikuliti Hidup-Hidup Viral, Polres Sragen Tegaskan Hoaks: Penyebar Sudah Minta Maaf
Aris menjelaskan bahwa ia mengunduh video tersebut dari aplikasi Status Saver tanpa mengetahui siapa pengunggah pertama.
Menurutnya, video itu hanya terlihat oleh sekitar 35 kontak WA, namun salah satu di antaranya memintanya untuk mengirimkan video tersebut.
Tak disangka, video itu kemudian diunggah ulang oleh akun Rumah Singgah Clow, yayasan pecinta hewan dari Bogor, ke media sosial mereka. Bersamaan dengan itu, data pribadi Aris ikut tersebar.
Akibatnya, Aris yang sehari-hari bekerja sebagai sopir, kini merasa diteror secara digital.
"Kalau yang ada ini sekitar 30-an (nomor), belum termasuk yang sudah dihapus. Saya sampai nggak berani pegang handphone," ujarnya.
Harapan Aris: Tak Lagi Diteror
Aris berharap permintaan maafnya bisa diterima dan data pribadinya segera dihapus dari media sosial agar tidak ada lagi teror dari nomor tak dikenal.
Ia menegaskan bahwa unggahan di status WhatsApp tersebut adalah murni ketidaksengajaan dan tidak dimaksudkan untuk menyebarkan hoaks atau memprovokasi.
Tokoh Masyarakat: Aris Tak Salah, Tapi Ceroboh
Menanggapi kasus ini, tokoh masyarakat Gondang, Sumardi, memastikan bahwa tidak ada kejadian pengulitan anjing di wilayah Gondang, apalagi yang berkaitan dengan momen Idul Adha.
"Tadi malam Mas Han (Aris Hantoro, red) sudah klarifikasi ke Polsek Gondang. Saya rasa Mas Han ini tidak salah, tapi ceroboh. Hal ini semestinya menjadi pelajaran untuk pengguna medsos yang lain," tegasnya.
Sumardi juga menyayangkan tindakan pihak yang menyebarkan data pribadi orang lain di ruang digital, apalagi dalam situasi yang rentan disalahpahami. (din/dam)