Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Peringati Idul Adha, Keraton Kasunanan Surakarta Gelar Grebeg Besar dengan Tradisi dan Makna Mendalam

Damianus Bram • Minggu, 8 Juni 2025 | 00:10 WIB
Sejumlah warga rebutan isu dari gunungan dalam Grebek Besar yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (7/6/2025).
Sejumlah warga rebutan isu dari gunungan dalam Grebek Besar yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (7/6/2025).

SOLOBALAPAN.COM – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi tahunan Grebeg Besar pada Sabtu pagi (7/6/2025), bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Ratusan warga memadati jalur arak-arakan untuk menyaksikan prosesi yang penuh makna ini.

Dua Gunungan, yaitu Gunungan Jalu dan Gunungan Walestri, diarak dari dalam keraton menuju Masjid Agung Surakarta, dengan pengawalan ketat oleh prajurit keraton yang mengenakan atribut tradisional.

Arak-arakan atau yang akrab disebut kirab dalam bahasa Jawa ini dimulai sekitar pukul 09.30 WIB dan berakhir di pelataran Masjid Agung Surakarta.

Suasana sakral tercipta ketika gunungan-gunungan tersebut tiba, disambut doa bersama yang dipanjatkan oleh ulama dan tokoh masyarakat.

Makna Filosofis dari Gunungan Jalu dan Walestri

Setelah prosesi doa, Gunungan Jalu yang berisi berbagai bahan pokok seperti beras, cabai, kacang panjang, jagung, dan hasil bumi lainnya langsung menjadi rebutan warga.

Hanya dalam hitungan menit, seluruh isi gunungan ludes tak tersisa. Warga percaya bahwa mereka yang memperoleh bagian dari gunungan akan mendapat berkah.

"Saya senang sekali bisa ikut berebut isi gunungan. Dapat kacang panjang. Kata orang tua dulu, siapa yang mendapat bagian dari gunungan, maka akan dapat berkah. Semoga keluarga saya diberi rezeki lancar dan sehat selalu," kata Siti Rohmawati, 42, salah seorang warga.

Senada dengan itu, Wahyudi, 35, warga asal Klaten, menyatakan, kegiatan ini menjadi berkah.

"Saya yakin ini berkah. Kita rebutan bukan untuk serakah, tapi untuk ngalap berkah. Saya dapat sedikit beras dan cabe, Insyaallah ini jadi doa untuk keluarga saya,” jelasnya.

Grebeg Besar Sebagai Bentuk Sedekah Keraton

Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Muhammad Muhtarom, menjelaskan bahwa Grebeg Besar merupakan salah satu dari tiga tradisi Grebeg utama yang digelar setiap tahun oleh Keraton Surakarta, yaitu Grebeg Maulud (Sekaten), Grebeg Pasa, dan Grebeg Besar. Tahun ini, pelaksanaannya bertepatan dengan 10 Dzulhijjah, atau Idul Adha.

“Grebeg ini adalah bentuk sedekah Keraton kepada rakyat dan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan keselamatan, hidayah, dan maunah. Islam Jawa mengajarkan dasar sedekah dan slametan, yang mengedepankan doa dan rasa syukur sepanjang hidup. Budaya ini dikemas dalam nilai-nilai Islami,” ujar Muhtarom.

Muhtarom menambahkan bahwa Gunungan Jalu dan Gunungan Walestri memiliki makna filosofis yang mendalam.

Gunungan Jalu yang menjadi rebutan utama melambangkan tanggung jawab laki-laki sebagai pemenuhan kebutuhan hidup keluarga, sementara Gunungan Walestri menggambarkan peran perempuan dalam mengolah bahan pangan yang diberikan suami menjadi santapan bergizi bagi keluarga.

“Peran suami dan istri saling melengkapi. Berapa pun rezeki yang diperoleh, istri harus mengolahnya dengan bijak agar menjadi berkah,” tambahnya. (dam)

 

Editor : Damianus Bram
#idul adha #Grebeg Besar #Masjid Agung Surakarta #kirab #keraton kasunanan surakarta