SOLOBALAPAN.COM – Dugaan penipuan berkedok investasi kembali mencuat di Boyolali. Sekitar tujuh warga yang mengaku sebagai nasabah Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) melaporkan telah menjadi korban investasi bodong setelah dijanjikan bonus besar setiap bulan.
Para korban merasa dirugikan setelah pencairan dana terakhir dilakukan pada Maret 2025. Sejak saat itu, pembayaran dari pihak koperasi mendadak dihentikan secara sepihak.
Salah satu korban, Dwi Priatmoko, mengungkapkan dirinya mulai bergabung dengan program investasi Koperasi BLN sejak September 2024. Ia tertarik mengikuti skema Sipintar, yang menjanjikan pengembalian dana dua kali lipat dalam waktu 24 bulan.
Baca Juga: Korban Ledakan Amunisi Garut Cuma Digaji Rp150 Ribu? Ini Kata Keluarga di Hadapan Dedi Mulyadi
“Awalnya saya setor Rp100 juta dan dijanjikan akan menerima kembali Rp200 juta dengan pencairan setiap bulan,” ungkap Dwi saat ditemui tim Solobalapan.com.
Tak hanya itu, karena tergiur imbal hasil tinggi, Dwi bahkan menggadaikan sertifikat pensiun untuk meminjam dana tambahan dari bank demi menambah setoran investasinya hingga Rp150 juta. Namun, ia hanya menerima tiga kali pencairan sebelum skema investasi tersebut diganti sepihak oleh pihak BLN.
Menurut Dwi, jumlah rekening aktif di Koperasi BLN mencapai sekitar 40 ribu, namun diperkirakan milik sekitar 5.000 individu, karena satu orang bisa memiliki lebih dari satu rekening.
"Korban berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pensiunan ASN, pengusaha, hingga ibu rumah tangga," tuturnya.
Dwi sendiri mengaku masih merugi sekitar Rp75 juta, sementara beberapa korban lainnya mengalami kerugian hingga Rp 4 miliar. Bahkan, ada salah satu nasabah yang harus menanggung kerugian hingga Rp14 miliar karena turut mengajak pihak lain untuk bergabung.
Korban lainnya, Aris Tarmadi, mengaku telah mendatangi kantor pusat Koperasi BLN di Salatiga, namun kantor tersebut dalam keadaan kosong. Kepala koperasi dan pegawai tak lagi berada di lokasi.
“Kami juga sudah ke rumah Pak Niko, kepala koperasi, tapi yang ada hanya asisten rumah tangga,” ujarnya.
Aris bersama sejumlah korban lainnya kini berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Mereka berharap langkah hukum dapat segera ditempuh agar dana para nasabah bisa kembali.
“Harapannya semakin banyak korban yang berani melapor. Di Boyolali saja jumlahnya banyak, tapi masih banyak yang takut bersuara. Semoga dengan kami bersuara, korban lainnya bisa ikut bergabung,” pungkas Aris. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto