Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

UMS Berdayakan Ibu-ibu 'Aisyiyah Kedungtuban untuk Cegah Kebakaran

Andi Aris Widiyanto • Senin, 21 April 2025 | 15:08 WIB

UMS mengadakan Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran untuk ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi ‘Aisyiyah.
UMS mengadakan Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran untuk ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi ‘Aisyiyah.

SOLOBALAPAN.COM – Tingginya risiko kebakaran di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, mendorong dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Kelompok ‘Aisyiyah dalam Pencegahan dan Penanganan Kebakaran.”

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterampilan mitigasi kebakaran bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu yang tergabung dalam organisasi perempuan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah.

Ketua tim pengusul dari Fakultas Teknik UMS, Alfia Magfirona, S.T., M.T., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Baca Juga: Peluncuran Buku 'Di Balik Pintu Desa' dan Film Dokumenter Tokoh PMII Ramaikan Mahbub Djunaidi Festival ke-5 di Kartasura

“Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum memahami langkah-langkah pencegahan dan penanganan kebakaran. Melalui program ini, kami ingin memberikan edukasi sekaligus membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas,” ujar Alfia, Kamis (17/4/2025).

Kecamatan Kedungtuban dikenal rawan kebakaran karena banyak rumah dibangun menggunakan material mudah terbakar seperti kayu dan bambu. Selain itu, korsleting listrik dan kelalaian penggunaan alat rumah tangga turut memperparah potensi kebakaran.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus kebakaran di wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai langkah konkret, lima mahasiswa UMS memberikan pelatihan kepada ibu-ibu ‘Aisyiyah, mencakup edukasi penyebab kebakaran, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), hingga simulasi evakuasi darurat.

Baca Juga: Jangan Putus Silaturahmi! Hikmah Syawalan dan Halalbihalal dalam Perspektif Islam dan Pesan Ustadz Dwi Jatmiko

Tak hanya itu, tim juga menyusun buku pedoman kebakaran interaktif yang dilengkapi ilustrasi dan infografis agar mudah dipahami masyarakat. Salah satu anggota tim, Fadhilla Tri Nugrahaini, menjelaskan bahwa buku tersebut menjadi panduan penting dalam menghadapi situasi darurat.

“Buku ini tidak hanya berisi teori, tapi juga visualisasi yang praktis. Kami berharap masyarakat bisa lebih tanggap dan siap,” ungkap Fadhilla.

Program ini turut menggandeng petugas pemadam kebakaran setempat untuk memberikan pelatihan langsung terkait penggunaan alat pemadam serta prosedur penyelamatan diri.

Inovasi lain yang turut dikenalkan adalah sistem barcode digital. Warga bisa memindai kode tersebut untuk mengakses informasi langkah darurat saat terjadi kebakaran secara cepat.

Baca Juga: Viral Arif Muhammad Sakit Saat Umrah Diduga Gegara Singgung Hal Ini di Tanah Suci, Warganet: Teguran?

Dengan anggaran sebesar Rp10 juta dari Hibah Riset Muhammadiyah, program ini menargetkan peningkatan kesadaran dan keterampilan mitigasi kebakaran. Indikator keberhasilan mencakup peningkatan pemahaman, penurunan kepanikan saat simulasi, serta tingginya partisipasi warga dalam pelatihan.

Diharapkan, inisiatif ini mampu menciptakan masyarakat Kedungtuban yang lebih siaga dan tangguh menghadapi risiko kebakaran. Proyek ini menjadi contoh nyata sinergi akademisi, komunitas, dan pemerintah dalam mewujudkan solusi konkret atas masalah lingkungan dan keselamatan publik. *(an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#bpbd #penanganan kebakaran #ums #pengabdian masyarakat