SOLOBALAPAN.COM - Di sebuah simpang empat sederhana di Desa Sono, Kecamatan Mondokan, Sragen, tersembunyi sebuah permata kuliner yang tak pernah sepi dari serbuan penikmat bakso.
Aroma kuah kaldu yang kaya dan menggoda langsung menyambut siapa saja yang melintas, seolah menarik mereka untuk mendekat.
Inilah Bakso Berkah Pangestu, sebuah oase rasa yang telah lama menjadi andalan warga lokal untuk menikmati semangkuk bakso dengan sentuhan magis.
Daya tarik utama warung ini terletak pada kreasi unik sang pemilik, Mas Aji: Bakso Tumpeng. Sosok ramah di balik gerobak ini dengan cekatan meracik setiap pesanan, menari-nari dengan mie kuning lembut, mie putih kenyal, hijaunya sawi segar, seledri aromatik, dan taburan bawang goreng renyah yang menggoda.
Siang itu, atmosfer warung begitu hangat, diisi dengan gelak tawa dan obrolan para pelanggan yang tengah menikmati kelezatan bakso. Tampak petani yang melepas lelah setelah berjibaku di sawah, hingga para penggemar setia bakso tumpeng yang menjadikannya sebagai ritual kuliner harian.
Di tengah kesibukan, Mas Aji tetaplah sosok yang bersahaja, sesekali melontarkan candaan ringan yang semakin menambah keakraban.
Bagi lidah warga Desa Sono dan sekitarnya, Bakso Berkah Pangestu bukan sekadar pengisi perut. Lebih dari itu, warung ini adalah representasi kehangatan dan kebersamaan, di mana setiap suapan bakso tak hanya memuaskan rasa lapar, tetapi juga menghidupkan cerita dan mempererat tali silaturahmi.
Meskipun menawarkan pula mie ayam dan beragam pelepas dahaga, bintang sejati di sini tak lain adalah bakso tumpeng. Sebuah inovasi kuliner yang berhasil mencuri perhatian dan menjadikan warung ini begitu istimewa di peta kuliner Sragen.
"Sudah tiga tahun ini saya bereksperimen dengan bakso tumpeng," ungkap Mas Aji sambil menuangkan kuah kaldu panas yang tampak begitu menggoda ke dalam mangkuk seorang pelanggan.
Bakso tumpeng ini bukan bakso biasa. Bentuknya yang menyerupai gunungan mungil memang memanjakan mata, namun kejutan sesungguhnya baru terasa saat disantap. Betapa tidak, di balik teksturnya yang kenyal, tersembunyi "harta karun" berupa dua butir telur puyuh gurih dan satu bakso kecil yang siap memberikan sensasi rasa yang berbeda.
"Awalnya iseng saja, eh ternyata banyak yang ketagihan," ujarnya sambil tertawa ringan.
Tak hanya itu, kehadiran dua bakso kecil di sisi bakso tumpeng semakin memanjakan penikmatnya. Kuahnya? Jangan ditanya! Gurihnya meresap, kehangatannya memeluk lidah dengan lembutnya cita rasa kaldu sapi asli. Setiap tegukan adalah kebahagiaan sederhana yang sulit untuk ditolak.
Baca Juga: Petugas Palang Pintu KA Batara Kresna Jadi Tersangka Kecelakaan Maut di Sukoharjo
Dengan harga yang sangat bersahabat, hanya Rp13.000 per porsi, tak heran jika Bakso Berkah Pangestu menjadi destinasi favorit untuk mengisi perut di tengah hari yang terik maupun menghangatkan diri di malam yang sejuk.
Lebih dari sekadar tempat makan, Bakso Berkah Pangestu adalah cerminan dari kreativitas dan semangat kerja keras Mas Aji. Lokasinya yang strategis di persimpangan jalan desa memudahkan siapa saja untuk menemukan surga rasa ini. Papan nama sederhana di depan warung menjadi penanda bahwa di sinilah, di jantung Mondokan, kelezatan yang tak terlupakan menanti untuk dieksplorasi.
"Saya hanya ingin membuat makanan yang bisa membuat orang bahagia," tutur Mas Aji dengan senyum tulus.
Baca Juga: Marc Marquez Secara Blak-blakan Akui Francesco Bagnaia Lebih Unggul Jelang Balapan MotoGP Qatar 2025
"Kalau mampir ke sini, rasanya bukan cuma kenyang, tapi juga hati ikut senang. Baksonya unik, kuahnya itu lho, bikin pengen balik lagi dan lagi," timpal Sungadi, seorang pelanggan setia dari Desa Sono yang telah menjadi saksi popularitas warung ini sejak awal.
Ia menambahkan, kuah baksonya memang juara, gurihnya bikin ketagihan. Terlebih lagi bakso tumpengnya yang penuh kejutan.
"Pas dibelah, eh, ada telur puyuh sama bakso kecil lagi di dalamnya. Harganya juga ramah di kantong, pas buat santap siang atau malam," pungkasnya, seolah tak sabar untuk segera kembali menikmati semangkuk Bakso Berkah Pangestu. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto