Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dilema Pariwisata Solo Pasca Lebaran: Efisiensi Anggaran Picu Kekhawatiran Asita, Destinasi Baru Jadi Andalan Pemkot

Silvester Kurniawan • Kamis, 10 April 2025 | 01:38 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

SOLOBALAPAN.COM - Selesai perayaan Lebaran 2025, sektor pariwisata di Kota Solo dihadapkan pada dua pandangan yang berbeda.

Turunnya mobilitas masyarakat pasca Lebaran menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri, namun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta justru memprediksi peningkatan jumlah kunjungan wisata.

Ketua Association of The Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Mirza Ananda, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pariwisata tahun ini. Ia melihat penurunan geliat pariwisata bahkan sebelum Lebaran tiba.

"Memang saat mudik tahun ini bisa dilihat hotel-hotel itu biasanya satu bulan sebelumnya sudah full. Tahun ini tiga hari sebelumnya itu banyak kamar-kamar hotel yang masih kosong. Artinya memang tidak seperti biasanya, bahkan harganya pun untuk hotel masih relatif standar padahal biasanya dikenakan high season surcharge," kata Mirza.

Baca Juga: Di Tengah Polemik Esemka, Begini Kondisi Terkini Pabrik Perakitan di Sambi Boyolali

Mirza menduga beberapa faktor menjadi penyebab penurunan ini. Pertama, Idul Fitri yang jatuh berdekatan dengan libur Natal dan Tahun Baru.

Kedua, Lebaran yang waktunya berdekatan dengan momen dimulainya tahun ajaran baru sekolah.

"Mungkin karena mepet dengan tahun baru lalu yang euforianya lebih besar, sementara Maret – Juli itu sudah masuk sekolah lagi. Mungkin ini yang membuat masyarakat lebih irit dalam melakukan pengeluaran," hemat Mirza.

Selain itu, kebijakan pembatasan anggaran atau efisiensi pembiayaan pemerintah juga dinilai memberikan dampak signifikan bagi industri pariwisata daerah.

"Kebijakan dari atas ke bawah itu pasti dampaknya akan terasa hingga masyarakat paling bawah, apalagi untuk bisnis pariwisata dan perhotelan. Oleh sebab itu, jika bisa memilih, tentu pelaku usaha akan jujur untuk tidak setuju dengan kebijakan tersebut," tegasnya.

Baca Juga: Ruben Onsu Telah Resmi Jadi Mualaf, Ini Tanggapan Sarwendah sang Mantan Istri dan Betrand Peto

Mirza menekankan dampak multiplier effect yang besar dari sektor pariwisata. "Kalau di pariwisata satu tamu saja tidak datang dampaknya besar, berarti tidak masuk hotel, tidak pakai transportasi, tidak beli makan, tidak beli oleh-oleh, artinya kan tidak sampai ke pasar. Dampaknya memang sangat besar, bisa jadi lesu," papar dia.

Ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi ini mengingat dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.

"Kalau diefisiensi untuk negara tapi peredaran uang di masyarakat tidak ada ya akan sama saja," imbuh Mirza.

Baca Juga: Shin Tae-yong Resmi Jadi Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Korea Selatan, Apa Saja Tugas dan Kewajibannya?

Berbeda pandangan, Disbudpar Kota Surakarta memperkirakan jumlah kunjungan wisata selama Lebaran 2025 justru lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kota Surakarta, Gembong Hadi, menjelaskan bahwa hingga 7 April 2025 (pukul 15.00 WIB), jumlah wisatawan mencapai 333.732 orang. Pada periode yang sama di tahun 2024 (perhitungan 18 hari masa Lebaran), jumlah wisatawan tercatat 310.529 orang.

Baca Juga: Update Kondisi Pemain Persis Solo Jelang Laga Lawan Malut United, Targetkan Kemenangan di Kandang Sendiri

"Tahun ini ada peningkatan karena ada destinasi baru (Taman Balaikambang) yang tahun lalu belum dibuka, jadi wisatawan selain dari luar daerah, wisatawan dari masyarakat lokal juga terbilang tinggi," papar Gembong Hadi. Pihaknya mengakui perhitungan final jumlah kunjungan wisata di seluruh destinasi Solo masih dalam proses. (ves/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#kunjungan wisata #asita #penurunan #idul fitri #disbudpar #geliat pariwisata