Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Solo is Solo, Ajang Street Performance yang Buktikan Musik Tak Harus di Panggung Mewah, Kini Gatsu Makin Hidup!

Maulida Afifa Tri Fahyani • Sabtu, 5 April 2025 | 19:05 WIB
Solo is Solo, Gatsu Night Market.
Solo is Solo, Gatsu Night Market.

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Tiap sudut Kota Solo punya daya tariknya sendiri, termasuk kawasan Koridor Gatot Subroto (Gatsu) yang jadi pusat acara mingguan Solo is Solo Street Art.

Nggak cuma dipadati stand UMKM lokal, acara ini juga jadi wadah seru buat seniman nunjukin karya mereka lewat panggung seni terbuka.

"Kami menyebutnya Street Art Performance. Konsepnya memang penampilan di ruang publik yang sederhana dan praktis, dengan merespons ruang di kawasan Koridor Gatsu itu sendiri," jelas Koordinator program Solo is Solo, Irul Hidayat, saat ngobrol bareng Jawa Pos Radar Solo (Solo Balapan Group), Sabtu (8/3).

Setiap Jumat dan Sabtu malam, pengunjung bisa nikmatin berbagai pertunjukan seru—dari musik, tari, sampai teater.

Yang bikin acara ini beda, bukan cuma sekadar hiburan, tapi juga jadi tempat seniman berekspresi dan bikin suasana kota makin hidup.

"Kami ingin melahirkan banyak musisi-musisi atau band indie Solo yang bisa berkembang ke depannya. Solo is Solo bukan hanya pelengkap, tapi ruang penciptaan yang bisa menggerakkan kreativitas mereka,” lanjut Irul.

Acara ini memang dirancang buat ngasih ruang bagi musisi lokal dan komunitas seni lain buat tampil lebih leluasa dan bebas interaksi sama penonton.

"Untuk gelarannya sendiri kami menyiapkan tiga panggung seperti di Plaza Bedoyo, Amarillo Steak, dan area sekitar Pasar Sarpon, yang masing-masing lokasi memiliki karakter yang berbeda, menyesuaikan dengan jenis pertunjukan yang disajikan," imbuhnya.

Misalnya, di satu panggung bisa nonton musik rock, di panggung lain bisa dapet vibes pop, jazz, atau dangdut.

Genre-nya terus ganti tiap minggu, jadi nggak pernah ngebosenin.

"Kita ingin suasana yang segar dan tidak membosankan, ada berbagai genre yang berganti tiap minggunya, seperti genre musik, dari rock, metal, pop, jazz, ska, reggae, hingga dangdut, semua bisa tampil di sini," tambah Irul.

Bukan cuma musik, Solo is Solo juga kasih ruang buat pertunjukan lain kayak tari dan teater.

"Kami memang open kurasi, performer bisa kirim profil video di link, untuk bisa kami lihat yang sudah layak atau punya kualitas," jelasnya.

Program ini sendiri udah dimulai sejak 2017, digagas Irul bareng komunitasnya.

Awalnya cuma beberapa performer jalanan yang tampil di Gatsu.

Sekarang, udah ada sekitar 150 grup dan seniman yang pernah tampil di acara mingguan ini.

"Kami pertama bikin festival itu tahun 2017, awalnya untuk aktivitas mural dan street art lainnya, sampai akhirnya Pemkot merenovasi dan kami gencarkan kegiatannya," terang Irul.

Ke depannya, Irul juga pengen acara ini makin rapi dan tematik, kayak festival mini untuk genre tertentu.

"Kami ingin mengembangkan mini festival tematik-tematik tertentu misalkan khusus folk sendiri, solois sendiri, dangdut sendiri, ke depan kami ingin terus ke arah itu," ujarnya.

Karena sifatnya partisipatif, penonton pun aktif dan antusias. Bahkan nggak jarang mereka ikutan nyawer.

"Karena memang sifatnya di sini partisipatif. Pengunjung pun juga antusias, bahkan biasanya ikut nyawer, sekali tampil penampil bisa dapat Rp 1–2 juta lebih," tutup Irul. (ul/lz)

Editor : Laila Zakiya
#Solo is solo #gatot subroto #street art