SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Street Art Performance Solo is Solo di kawasan Koridor Gatot Subroto (Gatsu) jadi bukti nyata bahwa ruang publik bisa banget dimanfaatkan jadi tempat ekspresi seni.
Setiap akhir pekan, Gatsu bukan cuma dipenuhi pedagang UMKM.
Tapi juga berubah jadi panggung terbuka untuk musisi lokal tampil dan unjuk karya.
Suasana ini makin memperkuat ekosistem seni di Kota Solo dan jadi daya tarik baru buat wisatawan.
“Solo ini luar biasa, ekosistem keseniannya sudah tumbuh. Banyak tempat-tempat publik yang berkembang sebagai panggung pertunjukan, termasuk di koridor Gatsu yang banyak dikunjungi masyarakat,” kata pengamat musik Joko S. Gombloh kepada Radar Solo (Solo Balapan Group), Selasa (18/3/2025).
Menurut Joko, penggunaan ruang publik kayak Gatsu berdampak besar buat eksistensi musisi lokal.
Karena nggak ada batasan penonton, musisi bisa menjangkau lebih banyak orang.
“Di sana kan tidak ada pembagian kelas, semua ada mulai dari tukang becak sampai mungkin masyarakat kelas elit mungkin lalu-lalang dan tertarik pertunjukan di Gatsu, ini yang bisa meningkatkan pamor si musisi sendiri,” jelasnya.
Konsep panggung terbuka ini juga pas banget dengan karakteristik street art performer.
Tapi jangan salah, musisi di Gatsu beda dari pengamen biasa. Mereka serius menyiapkan pertunjukan mereka.
Baca Juga: Soto Girin hingga Buthek: Rekomendasi Soto Legendaris di Sragen yang Wajib Dicoba
“Mereka tidak sekadar mengamen. Mereka menyiapkan sound system, menata panggung, dan benar-benar menyusun pertunjukan mereka agar bisa dinikmati dengan baik oleh audiens,” lanjut Joko.
“Ini saya kira membuat Solo is Solo sedikit mewarnai domain street art itu sendiri, menjadi lebih tertata dan teratruktur,” sambungnya.
Panggung terbuka kayak di Gatsu juga bikin interaksi antara musisi dan penonton jadi lebih dekat dan cair.
Suasana yang tercipta pun lebih hidup, beda banget sama vibe panggung konvensional.
“Suasana di Gatsu itu lebih cair dan akrab. Musisi dan penonton berinteraksi tanpa sekat, sehingga musisi bisa lebih bebas mengekspresikan musik mereka, itu kelebihannya,” tambahnya.
Solo is Solo di Gatsu juga jadi kesempatan buat masyarakat menikmati seni dalam atmosfer yang lebih rileks.
Ke depan, Joko berharap ekosistem seni di Gatsu terus tumbuh dan dijaga.
Dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, Gatsu bisa banget jadi ikon baru Kota Solo.
Nggak cuma untuk seni, tapi juga dorong wisata dan ekonomi lokal.
“Jika ekosistem yang terbentuk ini terus berkembang, Gatsu akan semakin menjadi pusat seni yang ramai dikunjungi. Tidak hanya musisi yang diuntungkan, tetapi juga masyarakat dan pedagang yang ada di sekitar area tersebut,” pungkas Joko.
“Inilah pentingnya untuk menjaga ekosistem di Gatsu saat ini, dengan berinovasi agar kebutuhan masyarakat, seniman, maupun pelaku UMKM tetap ada,” tutupnya. (ul/lz)
Editor : Laila Zakiya