Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Solo Jadi Ladang Fashion Anak Skena, Seberapa Berani Kamu Tampil Beda?

Fauziah Akmal • Jumat, 4 April 2025 | 15:11 WIB
Fashion skena merambah Kota Solo.
Fashion skena merambah Kota Solo.

SOLOBALAPAN.COM - Solo nggak cuma terkenal sebagai kota budaya, tapi sekarang juga hits sebagai tempat berkembangnya fashion skena di kalangan anak muda.

Gaya ini bukan cuma sekadar urusan pakaian, tapi juga ekspresi diri dan komunitas.

Nur Anisa, mahasiswa Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, bilang ketertarikannya terhadap fashion mulai muncul sejak SMA.

"Waktu itu aku sering nonton series Netflix, dan aku mulai memperhatikan bahwa setiap tokoh punya ciri khas masing-masing dalam berpakaian. Dari situ aku jadi suka mengamati dan mencari inspirasi dari berbagai gaya," bebernya.

Menurut Nisa, lingkungan kampus ISI Solo bikin dia makin pede buat berani berekspresi lewat fashion.

"Di ISI, mahasiswa bebas berekspresi dalam berpakaian selagi sopan dan tidak menyalahi aturan. Buat aku, fashion itu bukan cuma soal gaya, tapi juga cara menampilkan kepribadian dan meningkatkan mood. Rasanya kalau kita well-dressed, bawaannya jadi lebih percaya diri," tambahnya.

Tapi Nisa mengaku sempat bingung pas orang-orang mulai nyebut dia sebagai 'anak skena'.

"Jujur, aku kurang paham arti skena secara spesifik. Cara aku ber-outfit lebih ke bentuk ekspresi diri dan ruang buat berkreasi. Aku suka mix and match pakaian yang menurutku menarik dan nyaman tanpa harus mengikuti gaya tertentu," jelasnya.

Menurut Nisa, gaya fashion di Solo cenderung lebih santai dibandingkan kota besar kayak Jakarta atau Bandung.

"Di Solo, banyak anak muda yang punya ciri khas sendiri dalam berpakaian. Tapi secara umum, mereka lebih santai dan nggak seekspresif anak-anak di Jakarta atau Bandung yang lebih berani mengeksplorasi fashion," ujarnya.

Dia juga bilang bahwa akses buat dapetin fashion item unik di Solo masih jadi tantangan tersendiri.

"Di Solo, pilihan brand lokal atau thrift store yang menawarkan pakaian dengan style beragam memang ada, tapi belum sebanyak di kota besar seperti Jakarta atau Bandung," kata dia.

Bara Ramadhan, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Solo, nambahin kalau fashion skena di Solo punya ciri khasnya sendiri.

Fashion skena merambah Kota Solo.
Fashion skena merambah Kota Solo.

"Kalau sekarang, mungkin lebih ke celana baggy yang dipadukan dengan kaos band, boxy, atau kemeja crop. Ciri khas lainnya adalah penggunaan carabiner di celana," katanya.

Meski makin berkembang, Bara bilang fashion skena di Solo masih punya tantangan soal keberanian berekspresi.

"Banyak anak muda di Solo yang sebenarnya punya sense of fashion yang keren, tapi masih ragu buat tampil beda karena takut dinilai ‘aneh’ atau terlalu mencolok," kata dia.

Bara juga nyebut bahwa masih ada masyarakat yang belum bisa nerima gaya fashion skena ini.

"Mereka terbiasa melihat orang dengan pakaian yang lebih rapi, jadi ketika melihat gaya yang lebih eksperimental, ada yang menganggapnya terlalu berlebihan," ungkapnya.

Anak-anak hits yang trendi dengan outfit nyentrik emang sering banget disebut anak skena—dan biasanya diasosiasikan dengan coffee shop.

Ini terbukti dari banyaknya konten di medsos yang nunjukin coffee shop skena di Solo.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Shubuha Pilar, ngejelasin kalau algoritma media sosial ikut bikin coffee shop makin hits sebagai tempat nongkrong.

"Coffee shop menjadi ruang publik untuk semua kepentingan, termasuk bagi mereka yang datang untuk menambah pengetahuan. Mereka menyaksikan fashion dan musik yang dinikmati oleh pengunjung di sana, sehingga mereka turut merepresentasikan diri sebagai anak kota," ujarnya.

Pemilik coffee shop juga aktif membangun identitas ruang mereka, dengan orientasi profit tapi tetap inklusif buat berbagai minat anak muda, tanpa terlalu ngikutin tren fashion atau musik tertentu.

"Skena di tahun 70-an identik dengan kultur musik punk dan hardcore, dimana jarak antara pemusik dan penonton tidak terasa. Konsep inilah yang kemudian direplikasi oleh pemilik modal sebagai strategi untuk menggaet massa melalui pertunjukan live music," jelasnya. (zia/lz)

 
Editor : Laila Zakiya
#fashion #kota solo #skena