SOLOBALAPAN.COM - Home Recording menjadi salah satu tren yang berkembang pesat di Kota Solo, terutama di kalangan para anak muda.
Apalagi Home Recording bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, di sisi lain bisa menjadi wadah untuk memproduksi karya-karya musisi lokal.
Akhmad Fauzan (25), adalah satu di antara sekian sosok yang menggeluti usaha home recording di sudut tempat kosnya.
Kepada Jawa Pos Solo Balapan, ia mengungkapkan bahwa awal mulanya ia menggeluti tren tersebut karena kegemarannya dengan musik.
"Awal mula berawal dari ketertarikan dari terutama dari musik dan teknologi, basic saya juga pemain keyboard. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar lebih mengenai home recording dan membuka jasa di kos sekarang," ucap Akhmad Fauzan kepada Jawa Pos Solo Balapan, Selasa (25/3).
Dikatakannya, tren ini mulai digelutinya semenjak masih duduk di bangku kuliah.
Mulanya, ia merintis usahanya ini secara sederhana, bahkan hanya dengan sebuah laptop.
"Awalnya, saya hanya memiliki perangkat komputer saja, yang sudah cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi rekaman," ungkapnya.
Sedikit demi sedikit, Akhmad Fauzan berhasil mengumpulkan peralatan penunjang lain.
Ketika disambangi Jawa Pos Solo Balapan, ia sudah memiliki sejumlah peralatan, seperti monitor, speaker, microphone, hingga perangkat MIDI Controller dan lainnya.
"Alat-alat ini baru saya dapatkan beberapa tahun kemudian setelah saya menabung. Saya juga menggunakan berbagai software seperti Logic Pro untuk home recording ini," imbuhnya.
Fauzan menerangkan bahwa Home Recording bukan cuma tentang alat yang digunakan.
Tren ini sebenarnya lebih menitikberatkan tentang skill dan kreatifitas para pelakunya.
Selain mendokumentasikan karyanya secara mandiri, Fauzan juga menawarkan layanan jasa ini kepada musisi lokal yang ingin memproduksi lagu tanpa biaya besar.
"Dulu, saya hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, tapi sekarang saya bisa menjangkau lebih banyak orang melalui sosial media," ujar Fauzan.
Dari usaha yang dimulainya dari skala kecil ini, Fauzan menggarap pesanan atau proyek yang bervariasi.
Mulai dari recording, pembuatan jingle, backing track atau playback, hingga iringan musik untuk pertunjukan.
Ia memasang harga yang dipatok mulai dari Rp2 juta per proyeknya.
"Memang, mengerjakan rekaman di kosan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal penataan ruangan yang belum sepenuhnya kedap suara. Tapi, saya tetap berusaha memberikan hasil terbaik dengan terus belajar dan mengupdate alat," ujarnya.
Pelaku usaha jasa lainnya, Achmad Hidayah juga memilih Home Recording sebagai sumber pendapatannya saat ini.
Hampir sama dengan Fauzan, pria yang kerap disapa Ahid ini mengaku mulai tertarik dengan usaha Home Recording karena latar belakangnya di dunia musik, lebih tepatnya sebagai musisi gitar.
"Saya tertarik sejak masih kuliah, saat belajar tentang teknologi audio dan Digital Audio Workstation (DAW) seperti Q-bis. Saat itu saya mulai mengulik gitar dan software untuk rekaman, bukan lagi menggunakan pedal, tapi pakai software," kata Ahid.
Sama seperti Fauzan, bekal pertamanya untik terjun ke home recording adalah Laptop.
Namun saat ini berbagai peralatan recording dan mixing telah tersedia di rumahnya.
"Awalnya memang saya hanya iseng-iseng, tapi ternyata ada orang yang menghargai hasil rekaman saya dan mulai menerima pembayaran. Dari situ saya mulai serius dan mengembangkan usaha dengan update peralatan dan kemampuan," jelasnya.
Upgrade teknologi perangkat keras maupun lunak secara bertahap dijalani Ahid, termasuk membuka jasa untuk recording secara visual.
Dari usaha Home Recordingnya ini, ia menyebut pangsa pasarnya saat ini bermacam-macam. Mulai dari murid les, musisi lokal, hingga instansi-instansi lainnya.
"Sejak saya milih home recording untuk bisa jadi bisnis, saya mulai menggaet klien lewat medsos, saya update semua projek-projek yang saya garap," sebutnya.
Ahid juga menyebut, meski saat ini mulai banyak orang yang membuka home recording. Namun kesempatan itu menjadi ajangnya untuk belajar bersama.
"Tantangannya jelas adalah kompetitor yang semakin banyak, tapi saya tidak menganggap itu sebagai halangan. Setiap musisi kan punya cara dan sound-nya sendiri. Yang penting, saya terus mengembangkan kemampuan dan selalu update teknologi terbaru. Selain itu, menjaga kualitas dan membuat konten yang menarik untuk menarik perhatian orang juga penting," tandasnya. (ul/lz)
Editor : Laila Zakiya