SOLOBALAPAN.COM - Dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat, sejumlah kampung di Kota Bengawan mendirikan berbagai sentra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sebagian besar sentra ini merupakan binaan kelurahan, tetapi ada pula yang berdiri atas inisiatif warga secara mandiri.
Salah satu contohnya adalah Sentra Kuliner Paguyuban Pedagang Gilingan Rumekso (Padang ing Roso) yang berlokasi di Taman Cerdas Gilingan.
Keberadaan sentra ini telah membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.
Selain itu, letaknya yang berdekatan dengan destinasi wisata religi, Masjid Syech Zayed, menjadikannya tujuan bagi wisatawan yang berkunjung ke masjid hasil hibah dari Uni Emirat Arab tersebut.
Sekretaris Paguyuban, Deni Setiowati, mengungkapkan bahwa sentra kuliner ini beroperasi setiap Jumat hingga Minggu, mulai pukul 16.00 hingga 22.00.
"Ya, yang namanya jualan, kadang ramai kadang sepi. Mungkin karena lokasinya yang masuk ke dalam gang," ujarnya.
Meskipun begitu, Deni menegaskan bahwa hal tersebut tidak mengurangi semangat para pedagang.
Kebanyakan dari mereka menjual makanan rumahan dengan harga yang terjangkau, terutama bagi wisatawan.
"Saat ini terdapat 21 pedagang yang merupakan perwakilan dari 21 RW di kelurahan," katanya.
Paguyuban sendiri tidak memberikan pembinaan khusus, tetapi rutin mengadakan pertemuan bulanan guna mengevaluasi perkembangan usaha dan mencari cara agar sentra tetap ramai.
"Biasanya, kami berkumpul sebulan sekali untuk berbagi ide dan membahas kebutuhan yang diperlukan. Malam Minggu menjadi waktu tersibuk bagi sentra ini," tambahnya.
Senada dengan itu, Bendahara Paguyuban, Ita Hartati, menuturkan bahwa salah satu permintaan para pedagang adalah adanya sosialisasi dari pemerintah terkait lokasi usaha mereka.
"Karena letaknya di dalam gang, pengunjungnya tidak seramai sentra lain yang berada di pinggir jalan besar. Kami berharap ada papan petunjuk arah agar wisatawan yang ke Zayed tahu tentang keberadaan sentra kuliner ini," katanya.
Meski menghadapi kendala tersebut, Ita menjelaskan bahwa paguyuban tetap aktif dalam promosi melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.
"Biasanya pengunjung berasal dari warga sekitar, tetapi jika Masjid Zayed ramai, banyak juga wisatawan yang mampir ke sini," tambahnya.
Selain kuliner, sentra ini juga menghadirkan hiburan bagi pengunjung yang bersantap di tempat.
"Kami menghadirkan berbagai penampilan, mulai dari musik pop, keroncong, hingga dangdut, agar suasana lebih meriah," ungkap Ita.
Lurah Gilingan, Priadi, menjelaskan bahwa sentra kuliner ini mulai beroperasi sejak akhir tahun 2022 sebagai bagian dari program Kecamatan Banjarsari dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sentra UMKM, khususnya di bidang kuliner.
"Setiap kelurahan diwajibkan memiliki sentra kuliner, dan kami mulai mencanangkan program ini pada Desember 2022 dengan melibatkan 21 RW. Alhamdulillah, hingga kini masih berjalan dan menjadi wadah bagi ibu-ibu untuk berusaha," jelasnya.
Priadi mengakui bahwa perjalanan sentra UMKM ini tidak selalu mulus.
"Kami masih dalam tahap pembelajaran, terutama bagi para pedagang yang sebelumnya hanya berjualan di rumah. Namun, yang penting adalah semangat untuk terus berkembang," katanya.
Ia menambahkan bahwa tidak ada retribusi yang dibebankan kepada pedagang karena program ini bertujuan untuk murni memberdayakan masyarakat.
"Kami memilih lokasi ini karena dekat dengan Masjid Zayed, sehingga diharapkan bisa mendukung wisata kuliner di Solo," ujarnya.
Sementara itu, di RW 12 Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, masyarakat juga bergerak secara swadaya untuk membangun ekonomi mereka dengan mendirikan shalter bernama Kembul Swarga di bahu jalan Banyuanyar Selatan.
Ketua Paguyuban Shalter, Moch Shoddiq, menjelaskan bahwa usaha ini lahir dari keprihatinan warga terhadap kondisi ekonomi masyarakat setempat.
Bersama warga, ia mencari solusi guna meningkatkan kesejahteraan.
"Usaha ini pertama kali dimulai pada tahun 2018, tetapi sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 pada 2020. Baru pada akhir 2022 kami kembali menghidupkannya setelah ada kelonggaran dari pemerintah," ungkapnya.
Shoddiq menjelaskan bahwa langkah awal dalam mendirikan shalter ini adalah membersihkan area yang sebelumnya dipenuhi rumput liar dan sering dijadikan tempat pembuangan sampah ilegal.
"Kami bergotong royong menebas rumput liar, meratakan tanah dengan alat berat, dan mendirikan shalter," katanya.
Pada awalnya, para pedagang hanya menyewa tenda yang harus dipasang dan dibongkar setiap hari.
"Kemudian kami mendapat bantuan CSR berupa penyewaan tenda selama enam bulan.
Alhamdulillah, operasional paguyuban bisa dialihkan ke keperluan lain, hingga akhirnya kami mampu membeli tenda sendiri dan mendapatkan bantuan paving dari dinas pariwisata yang dipasang oleh warga," tuturnya.
Paguyuban ini tidak hanya menyediakan tempat usaha, tetapi juga membantu pedagang dengan modal awal serta pelatihan agar produk yang dijual lebih bervariasi.
"Bagi yang tidak memiliki kios, mereka bisa menitipkan makanan mereka kepada pedagang lain dengan sistem bagi hasil," jelas Shoddiq.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa terdapat tim khusus yang mengawasi kinerja pedagang.
"Ada saja yang mengeluh dagangannya sepi dan selalu meminta modal tambahan. Tim kami akan mengevaluasi apakah kendala tersebut berasal dari faktor eksternal atau justru karena kurangnya kebersihan dan konsistensi rasa makanan.
Jika masalah berasal dari pedagang itu sendiri dan mereka tidak mau berbenah, kami tidak bisa memberikan modal tambahan karena dana operasional harus digunakan untuk kepentingan bersama," tegasnya.
Saat ini, shalter ini tidak hanya beroperasi pada malam hari, tetapi juga pada pagi hari.
"Terdapat 12 pedagang yang berjualan pagi dan 14 pedagang malam, belum termasuk mereka yang hanya menitipkan barang dagangan," tambahnya.
Terkait dukungan dari pemerintah, Shoddiq mengungkapkan bahwa hingga kini paguyuban belum mendapatkan bantuan modal, meskipun sudah berulang kali mengajukan permohonan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan maupun kecamatan.
"Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah agar usaha warga bisa berkembang lebih baik lagi," pungkasnya. (atn/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo