BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM - Kerajinan tembaga ternyata makin eksis di era digital ini.
Bukan cuma soal mengolah tembaga secara tradisional, tapi kini berkembang dengan adanya jasa desain digital yang dikelola anak muda.
Salah satunya adalah Aji Prasetyo, desainer tembaga dari Dusun Banaran, Desa Cepogo, yang akrab dengan nama ARTO Ilustrator.
Aji sudah jatuh cinta sama kerajinan tembaga sejak lulus SMK tahun 2015.
Awalnya dia bekerja sebagai sekretaris galeri sekaligus desainer kerajinan.
Baru pada 2024, dia mantap buka jasa desain sendiri bernama Anom’s House.
Keahlian Aji ini turun langsung dari ayahnya, Widodo Anom Wibisono, dan ibunya, Sukamti, yang hingga sekarang masih aktif menjadi pengukir tembaga sejak tahun 1985. Darah seni emang udah ngalir dalam dirinya sejak kecil.
"Awalnya ya kerajinan tembaga itu hanya untuk perkakas masakan. Lalu, akhirnya galeri pertama di Cepogo, Muda Tama, mengumpulkan para perajin dan dijadikan karyawan. Lalu mulai ada perkembangan dari perkakas dan kerajinan, karena ada yang bisa mengukir dan memukul," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo (Solo Balapan Group).
Ayahnya, Widodo, dulu sempat bekerja dan belajar di pusat kerajinan di Kota Gede Jogjakarta pada tahun 1975-1980an.
Setelah pulang ke kampung, dia jadi salah satu desainer sekaligus pengukir yang andal.
"Kemudian mulai dikembangkan pembuatan vas, lampu dan lainnya. Pada 1990-an warna dan tekstur tembaga masih monoton. Akhirnya ayah saya mulai mengembangkan menjadi empat tekstur, yakni babaran rancak, babaran jeruk, babaran bambu, dan babaran batu,” katanya.
Widodo juga menjadi pionir dalam pembuatan lampu robyong yang dipasang di Bandara Soekarno Hatta.
Dia menciptakan teknik baru dengan memakai kayu ukiran sebagai mal sebelum tembaga dibentuk.
"Masuk di era modern, lampu dinding, lampu meja mulai ada desain minimalis. Pada 2000-an pembeli mulai request desain yang mereka inginkan. Sekarang, masuk era digital, tamu datang bawa foto cetak untuk dibuatkan sesuai ukuran. Dari situ mulai ada pengembangan desain, dari yang lama, baru hingga modifikasi," jelasnya lagi.
Aji paham banget peluang ini. Di ruang minimalis bernama Anom’s House miliknya, dia mulai membuka jasa desain.
Dia mengaku banyak belajar desain secara otodidak karena sering memperhatikan ayahnya bekerja.
"Saya sering menonton bapak pas mendesain termasuk manual. Saya baru memulai 6 bulan dan setiap hari selalu ada yang meminta tolong gambar. Ada dua jenis, bawa referensi dan ukiran, bawa ukuran desainnya ikut dari saya. Jasa gambar memang banyak, jadi ada spesialis desain, apalagi yang khusus digital itu ada enam orang," paparnya.
Sekarang, banyak perajin tembaga yang meminta bantuannya mendesain berbagai produk seperti pucuk menara masjid, gunungan wayang, lampu robyong, wall art, logo instansi, hingga relief wajah tokoh.
Aji buka jasa desain mulai pukul 08.00-16.00.
"Proses membuat desain itu sesuai dengan kerumitan. Kalau basic paling cepat 1 jam, tapi kalau rumit bisa 2-3 hari. Sehari bisa garap 3-4 desain simpel, sistemnya antri. Harga desain mulai dari Rp 15 ribu untuk yang simpel, logo Rp 50 ribuan, sedangkan yang mahal seperti gunungan, wayang, relief muka Rp 100-150 ribu, itu baru jasa desain, belum cetak," tambahnya.
Desain paling sulit menurutnya adalah gunungan wayang, karena ada pakem yang harus diikuti.
Walaupun masih belajar, dia berharap desain buatannya bisa sebagus karya sang ayah, sesuai pakem tapi tetap terlihat luwes. (rgl/lz)
Editor : Laila Zakiya