SOLOBALAPAN.COM - Pada era kolonial Belanda, wilayah Eks Karesidenan Surakarta menjadi rumah bagi banyak pabrik gula (PG).
Keberadaannya tak lepas dari kebijakan tanam paksa di tahun 1800-an yang mendukung berkembangnya industri gula.
Namun kini, tinggal satu yang masih berdiri dan aktif berproduksi: Pabrik Gula (PG) Mojo di Sragen.
Dulu, pabrik gula tersebar di berbagai wilayah Solo Raya. Kini, mayoritas telah berhenti beroperasi dan dialihfungsikan.
PG Tasikmadu di Karanganyar contohnya, kini menjadi Agrowisata Sondokoro dengan konsep edukasi industri gula.
PG Colomadu, juga di Karanganyar, telah diubah menjadi De Tjolomadoe, kompleks wisata modern yang merangkum museum, pusat konvensi, dan area komersial.
Di Klaten ada PG Gondang Baru yang kini dikenal dengan nama Gondang Winangun.
Sementara itu, bangunan tua bekas PG Gembongan di Kartasura, Sukoharjo, berubah menjadi spot wisata dengan nuansa antik dan Instagramable.
Di tengah perubahan itu, PG Mojo tetap menggiling tebu.
Pabrik ini tak hanya punya nilai sejarah tinggi, tetapi juga menjadi satu-satunya peninggalan industri gula di Solo Raya yang masih aktif berproduksi.
Manager Pengolahan PG Mojo, Sugiyanto, mengatakan bahwa pabrik sempat mati suri sebelum akhirnya direvitalisasi dan bangkit kembali.
“Terakhir, PG Tasikmadu beroperasi pada 2021. Sekarang tinggal Mojo yang bertahan,” ujarnya.
Kunci utama eksistensi PG Mojo adalah ketersediaan bahan baku. Tebu dari wilayah Sragen dinilai sangat mencukupi, bahkan surplus dan bisa dikirim ke pabrik gula lainnya.
“Dengan jadi satu-satunya PG aktif di Solo Raya, kami ditargetkan bisa menyerap panen tebu secara optimal. Tahun lalu kita menggiling 264.000 ton dan menghasilkan 11.000 ton gula. Tahun ini target naik menjadi 277.000 ton,” jelasnya.
PG Mojo juga melakukan peremajaan alat untuk meningkatkan kapasitas. Saat ini, pabrik mampu menggiling hingga 4.000 ton tebu per hari.
Di Sragen, diperkirakan ada 4.000 hektare lahan tebu yang menyokong industri gula.
Luasan itu menjadikan Sragen sebagai wilayah rebutan antar pabrik gula lain seperti PG Madukismo, PG Blora, Trangkil, hingga Redjoagung.
“Persaingan pasti ketat, tapi kita lebih eksis karena ongkos kirim dari Sragen ke PG Mojo jauh lebih murah dibanding ke pabrik lain,” tandas Sugiyanto.
Keberadaan PG Mojo juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Saat musim giling, pabrik ini menyerap hingga 600 tenaga kerja.
Di luar musim giling, tercatat ada sekitar 250 karyawan tetap yang masih bekerja.
Editor : Nindia Aprilia