SOLOBALAPAN.COM – Dampak penutupan PT Sritex tidak hanya dirasakan oleh ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga merembet ke sektor lain, termasuk jasa pengiriman paket.
Jalu Hariyanto, 43, seorang kurir paket asal Kecamatan Sukoharjo Kota, mengaku kehilangan sekitar 40 persen dari jumlah pengiriman hariannya akibat berkurangnya pelanggan dari kalangan buruh pabrik.
Sebelumnya, dalam sehari Jalu bisa mengantarkan 150-200 paket, di mana sekitar 60-70 paket biasanya dikirim ke pekerja Sritex yang tinggal di sekitar pabrik.
Kini, setelah pabrik berhenti beroperasi, jumlah paket yang harus ia antar menurun drastis.
"Itu baru saya saja yang kehilangan sekitar 40 persen. Di aplikasi tempat saya bekerja, ada sekitar 10 kurir yang beroperasi di sekitar PT Sritex, pasti mereka juga merasakan dampaknya," ujar Jalu, Jumat (28/2).
Menurutnya, buruh Sritex banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari melalui aplikasi e-commerce, mulai dari makeup, skincare, pakaian, hingga perlengkapan elektronik dan rumah tangga.
Kesibukan kerja membuat mereka lebih memilih belanja online ketimbang datang langsung ke toko.
Baca Juga: Demi Keluarga, Sutrisna Tetap Tegar Usai PHK: Terima Kasih Sritex, Saya Harus Bangkit
"Kadang kalau mengantar paket sampai malam, karena banyak yang lembur dan memilih pembayaran COD (Cash On Delivery)," tambahnya.
Selain itu, program diskon dan promo yang sering ditawarkan oleh marketplace juga membuat jumlah pengiriman paket meningkat. Namun, setelah Sritex tutup, Jalu memperkirakan pendapatannya turun lebih dari Rp 50 ribu per hari.
"Untuk satu paket, saya dapat upah Rp 1.800. Kalau biasanya bisa antar 50 paket sehari, sekarang jumlahnya jauh berkurang," ungkapnya.
Tak hanya kurir paket, penutupan PT Sritex juga memberikan dampak besar bagi ekosistem ekonomi di sekitarnya. Pedagang kecil, warung makan, hingga pemilik kos yang biasanya mengandalkan pekerja pabrik sebagai pelanggan utama kini harus memutar otak untuk bertahan (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto