SOLOBALAPAN.COM – Bekerja dengan rekan yang sudah lama menjadikan rasa kekeluargaan yang mendalam. Hal ini pula yang dirasakan oleh Sutrisna, 47 warga Klaten salah satu pekerja PT Sritex yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Seragam ini bukan sekadar kain, tapi penuh kenangan," ujar Sutrisna, 47, dengan mata berkaca-kaca.
Ia memandang seragam kerjanya yang penuh tanda tangan rekan-rekannya—sebuah simbol kebersamaan yang kini hanya tinggal kenangan.
Sutrisna, yang telah mengabdi bertahun-tahun di PT Sritex, kini harus menerima kenyataan pahit: ia termasuk dalam daftar pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kamis (28/2) menjadi hari yang berat bagi Sutrisna. Baru kemarin ia menerima kabar bahwa dirinya harus meninggalkan perusahaan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski sulit, ia tetap berusaha tegar.
"Saya ingin mengingat momen-momen saat bekerja di sini. Bertahun-tahun bersama rekan-rekan kerja sudah seperti keluarga sendiri," ujarnya dengan senyum tipis yang berusaha menutupi kesedihannya.
Bagi Sutrisna, Sritex bukan sekadar tempat mencari nafkah. Dari tempat inilah ia mampu menyekolahkan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
"Banyak kenangan di sini. Terima kasih Sritex, sudah memberi saya kesempatan bekerja dan menafkahi keluarga," katanya dengan suara bergetar.
Namun, hidup harus terus berjalan. Kini, Sutrisna berusaha bangkit, mencari peluang kerja baru agar tetap bisa menghidupi keluarganya. Ia berharap ada perusahaan lain yang bersedia menerima pekerja sepertinya.
PHK massal di PT Sritex menjadi gambaran suram bagi industri tekstil di Indonesia yang tengah menghadapi tantangan besar. Para pekerja yang kehilangan mata pencahariannya berharap ada solusi nyata dari pemerintah dan pihak terkait. Bagi mereka, kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan penghasilan, tapi juga kehilangan harapan.
Saat ini, Sutrisna dan ribuan pekerja lain menanti secercah harapan di tengah ketidakpastian. Semoga ada tangan-tangan yang tergerak untuk membantu mereka bangkit kembali. (kwl/an)