Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

IKA UMS Dorong Swasembada Daging Domba dan Pengembangan Ekspor

Laila Zakiya • Selasa, 7 Januari 2025 | 17:48 WIB
Rombongan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat mengunjungan peternakan domba di Jawa Timur.
Rombongan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat mengunjungan peternakan domba di Jawa Timur.

SOLOBALAPAN.COM – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong tercapainya swasembada daging, khususnya daging domba.

Saat ini, pasokan daging domba dari peternak lokal diperkirakan masih kurang dari 10 persen dari total kebutuhan nasional.

Dalam rangka memahami lebih jauh kondisi peternakan domba di Indonesia, IKA UMS mengadakan kunjungan dan diskusi ke sejumlah peternakan domba di Jawa Timur pada akhir pekan lalu.

Lokasi yang dikunjungi meliputi PST Farm Mojokerto, Rejo Bejoyo Farm Jombang, Galipat Farm Kediri, dan Barokah Farm Kediri.

“Kami mendorong peternak meningkatkan pemahaman tentang domba dan karkas. Meningkatkan kualitas domba untuk masuk ke pasar ekspor daging domba karkas,” ungkap Ketua IKA UMS, Dr. M. Aditya Warman.

Aditya menjelaskan bahwa karkas merupakan bagian daging domba setelah kepala, kaki, jeroan, dan kulit dihilangkan, yang menjadi tolok ukur utama dalam perdagangan daging untuk ekspor.

Menurutnya, jika peternak hanya fokus pada pasar lokal, kualitas domba yang dihasilkan akan sulit bersaing di tingkat global.

Untuk itu, peningkatan bobot domba, kualitas pakan, kesehatan, penggunaan obat dan vitamin, penanganan penyakit, serta manajemen peternakan yang baik menjadi solusi utama.

Langkah-langkah ini akan membantu para peternak menghasilkan domba berkualitas tinggi.

“Kalau jual domba lokal yang kecil kan nggak seberapa duitnya. Harga murah per kg, tukang sate hanya butuh yang beratnya 25-30 kg. Tapi kalau ekspor kan sekitar 40 kg. Nah itu semangat untuk mendorong ke sana harus kompak,” ujarnya.

Menurut Aditya, domba dengan bobot kecil cenderung memiliki harga jual rendah di pasar lokal.

Sebaliknya, domba dengan bobot sekitar 40 kilogram memiliki potensi besar untuk diekspor, sehingga mendorong para peternak untuk lebih kompak dalam meningkatkan kualitas produksi.

Baca Juga: Viral Reaksi Bung Towel Usai Shin Tae-yong Dipecat oleh PSSI hingga Namanya Jadi Trending di Sosial Media

Rombongan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat mengunjungan peternakan domba di Jawa Timur.
Rombongan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat mengunjungan peternakan domba di Jawa Timur.

Ia juga menambahkan bahwa kebijakan impor daging harus dikendalikan agar tidak merugikan para peternak lokal, mengingat pentingnya menjaga stabilitas pendapatan mereka.

Aditya menekankan pentingnya peran UMS dalam mendukung ketahanan pangan.

UMS dapat berkontribusi melalui riset yang mendukung pertumbuhan peternak di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, pengembangan sumber daya manusia, terutama peternak muda, menjadi prioritas yang dapat diwujudkan melalui penelitian-penelitian akademis.

Meski Aditya tidak memiliki data pasti mengenai suplai daging domba dan kambing di dalam negeri, ia menyebutkan bahwa suplai lokal masih sangat kurang, yaitu di bawah 10 persen dari kebutuhan nasional.

“Kebutuhan di dalam negeri masih kurang banyak (suplai dari peternak lokal). Saya tidak tahu angkanya, tapi saya dengar masih di bawah 10 persen,”  tegasnya.

Prof. M. Farid Wajdi, M.M., Ph.D., Direktur Pascasarjana UMS sekaligus Dewan Pembina IKA UMS, menambahkan bahwa UMS sangat peduli terhadap permasalahan masyarakat, khususnya di bidang pangan.

Meskipun UMS tidak memiliki Fakultas Peternakan, kontribusi tetap dapat diberikan melalui pendekatan multidisipliner seperti ekonomi, teknologi, distribusi, dan pangan.

“Secara multi disiplin bisa di bidang ekonomi, pangan, distribusi, teknologi dan sentuhan lainnya,” ungkap Farid Wajdi.

Ia menilai peternakan domba memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Indonesia karena modal yang dibutuhkan lebih kecil dibandingkan peternakan sapi.

“Dari situ kami berharap dapat berperan menyelesaikan persoalan para peternak yang bukan sekedar pedagang domba atau kambing,” ucapnya.

Namun, kendala utama adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang potensi beternak domba yang menguntungkan. Farid berharap UMS dapat membantu mengatasi hambatan ini.

“Kalau sapi membutuhkan biaya yang tinggi, dan modal besar. Kalau domba, biaya relatif lebih kecil dan banyak pihak yang bisa ikut terlibat,” terangnya.

Di sisi lain, Efendi, pemilik PST Farm di Desa Randegan, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto, mengungkapkan bahwa permintaan domba sangat tinggi hingga saat ini, bahkan untuk domba bunting harus dilakukan sistem indent.

“Kami 90 persen mengembangkan domba jenis Cross Texel. Domba jenis ini sudah tersebar di Jember, Banyuwangi, dan Wonosobo (Jateng),”  jelas Efendi.

Ia memulai usahanya dengan memelihara kambing sebelum beralih sepenuhnya ke domba pada tahun 2022.

“Yang paling jalan di trading, permintaan dari pembeli, terutama domba yang bunting sangat besar. Saat ini sampai indent,” tuturnya. 

Menurutnya, pemeliharaan domba lebih mudah karena tidak pilih-pilih makanan, tahan terhadap penyakit, dan memiliki sifat keibuan yang baik.

BST Farm mengelola pembibitan, penggemukan, dan perdagangan domba untuk mempercepat perputaran modal. Efendi menjelaskan bahwa usaha penggemukan lebih menguntungkan dibandingkan pembibitan karena waktu tunggu lebih singkat.

Rata-rata, harga domba dijual Rp85.000 per kilogram. Sedangkan untuk kualitas super dijual Rp100.000 per kilogram. Dalam sebulan, pihaknya mampu menjual sekitar 80-100 ekor domba. Sedangkan untuk penggemukan, dirinya mendatangkan domba dari Jember, Banyuwangi, dan Cirebon. 

Domba yang digemukkan di BST Farm didatangkan dari berbagai daerah seperti Jember, Banyuwangi, dan Cirebon. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, peternakan ini memanfaatkan rumput pakcong yang ditanam di lahan seluas 2 hektare.

Efendi menambahkan bahwa konsumsi daging domba sangat tinggi, terutama untuk warung sate.

Daging domba memiliki keunggulan berupa tekstur yang empuk, rasa gurih karena kandungan lemak, serta aroma yang lebih ringan dibandingkan kambing.

“Permintaan terbanyak untuk breeding,” ucapnya. 

Sementara itu, Angelo, pemilik Rejo Bejoyo Farm di Jombang, fokus pada pengembangan kambing Boer yang berasal dari Afrika.

Kambing ini disilangkan dengan jenis Jawa Randu untuk menghasilkan kualitas unggul.

“Harganya masih tinggi dan masih sedikit yang mengembangkan,” jelas Angelo.

Kambing hasil persilangan harganya sekitar Rp8 juta per ekor dengan usia masih anakan atau cempe dalam istilah Jawa. Sedangkan yang usianya 6 bulan harganya sekitar Rp20 juta. Pertumbuhan kambing persilangan cukup bagus karena sebulan bisa naik 3-4 kilogram. 

Dengan 500 ekor kambing yang dikelola, permintaan untuk kambing Boer terus meningkat meskipun jumlah peternak yang mengembangkan jenis ini masih sedikit.

Dengan berbagai upaya tersebut, potensi pengembangan peternakan domba dan kambing di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. (adv)

Editor : Laila Zakiya
#IKA UMS