SOLOBALAPAN.COM - Tim INOVOKASI Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 2024 berfokus pada pengembangan pertanian-peternakan terpadu dengan konsep zero waste di Kelurahan Sambi, Kabupaten Sragen.
INOVOKASI sendiri adalah program yang diluncurkan oleh DIKSI pada tahun 2024, bertujuan untuk memperkuat perekonomian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kegiatan yang dilakukan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs nomor 11 yang berkaitan dengan pembangunan kota dan pemukiman yang inklusif, aman, tahan lama, serta berkelanjutan.
Tim INOVOKASI UNS terdiri dari Ketua Ari Prasetyo, S.T., M.T., serta anggota-anggota lain, yaitu Dr. Hammar Ilham Akbar, S.Pd., M.T., Desy Setyaningrum, S.P., M.P., Ganjar Pambudi, S.T., M.T., dan Wahyu Subagyo Saputro, S.Pt., M.Sc.
Dalam melaksanakan program ini, Tim UNS berkolaborasi dengan BUMDes Sejahtera dan Kelompok Tani Sumber Rejeki di Desa Sambi.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa MBKM dari berbagai program studi seperti Peternakan, Pertanian, dan Teknik Mesin dari Sekolah Vokasi UNS.
Latar Belakang dan Tujuan Program
Kelurahan Sambi dikenal sebagai kawasan dengan mayoritas penduduk yang menjalankan usaha peternakan dan pertanian secara bersamaan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (2023), jumlah ternak besar, kecil, dan unggas di Desa Sambi mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya.
Namun, kotoran ternak yang dihasilkan selama ini hanya dibiarkan begitu saja, tanpa ada pemanfaatan lebih lanjut.
Padahal, kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah lingkungan seperti polusi udara, air, dan tanah.
Di sisi lain, kotoran ternak sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang sangat berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Untuk itu, program INOVOKASI ini bertujuan untuk memperkenalkan cara mengelola kotoran ternak menjadi pupuk organik melalui proses pengomposan yang ramah lingkungan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan para peternak dan petani di Sambi dapat meningkatkan kualitas produksi mereka sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Proses Pengomposan dan Pembuatan Pupuk Organik
Ketua Tim INOVOKASI UNS menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama dari program ini adalah memperkenalkan konsep pertanian dan peternakan yang lebih ramah lingkungan.
"Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa limbah bukanlah akhir dari proses produksi, melainkan awal dari sebuah siklus baru yang membawa manfaat bagi lingkungan dan ekonomi," ujar Ari Prasetyo.
Selain sosialisasi dan pelatihan, tim UNS juga memberikan pendampingan kepada petani dan peternak di Sambi untuk memastikan bahwa mereka dapat mengelola sistem ini dengan baik dan mendapatkan manfaat yang maksimal.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kelestarian alam, tetapi juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dengan menurunkan biaya produksi.
Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia secara lebih efisien, para petani dan peternak dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan meningkatkan kualitas hasil pertanian dan peternakan mereka.
Proses pembuatan pupuk organik dilakukan dengan cara mengomposkan kotoran ternak bersama bahan-bahan organik lainnya.
Bahan yang digunakan dalam pengomposan meliputi kotoran sapi, bahan karbon seperti jerami dan sekam padi, bahan hijau seperti rumput segar, serta kapur dolomit untuk menetralkan pH kompos.
Proses ini berlangsung selama 4-6 minggu, dengan bantuan bakteri pengurai atau aktivator kompos seperti EM4 dan molase.
Aplikasi Pupuk Organik dan Pelatihan kepada Petani
Setelah proses pengomposan selesai, pupuk organik yang dihasilkan dapat diterapkan ke lahan pertanian.
Pupuk organik yang matang memiliki ciri-ciri berupa tampilan yang seragam, berbentuk bubuk atau butiran, dan tidak berbau.
Penggunaan pupuk yang belum matang dapat menyebabkan masalah, seperti gas metana yang dapat merusak tanaman.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pupuk organik telah benar-benar matang sebelum diterapkan di lahan pertanian.
Tim UNS juga memberikan pelatihan tentang cara penggunaan pupuk organik yang tepat, mencakup dosis, metode, dan waktu yang sesuai untuk mendapatkan manfaat maksimal.
Selain meningkatkan kualitas tanah dan hasil pertanian, penggunaan pupuk organik juga membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menjadikannya pilihan yang lebih ramah lingkungan.
Peluang Bisnis dan Dukungan untuk Keberlanjutan Program
Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan unit bisnis yang potensial di Desa Sambi.
Dengan konsep pertanian-peternakan terpadu yang berbasis pada pengelolaan limbah secara optimal, Sambi memiliki peluang besar untuk menciptakan bisnis yang berkelanjutan.
Dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, sangat penting untuk memastikan kesuksesan program ini.
Keberhasilan penerapan konsep zero waste di Kelurahan Sambi akan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan sistem pertanian dan peternakan yang lebih berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah inovatif ini, Tim INOVOKASI UNS tidak hanya berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat, tetapi juga turut menjaga kelestarian lingkungan melalui praktik pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo