Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Perjuangan Haji Muhammad Lukminto di Balik PT Sritex: dari Kios Kecil di Klewer hingga Perusahaan Tekstil Terbesar di Asia Tenggara

Laila Zakiya • Kamis, 24 Oktober 2024 | 20:44 WIB
PT Sritex dinyatakan pailit oleh PN Semarang.
PT Sritex dinyatakan pailit oleh PN Semarang.

SOLOBALAPAN.COM - Baru-baru ini, publik digegerkan dengan kabar PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Kota Semarang.

Diketahui, PT Sritex dikenal sebagai perusahaan tekstil terbesar bahkan di tingkat Asia Tenggara.

Kepailitan PT Sritex ini lantas membuat publik menilai bahwasanya industri tekstil saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Sejarah Sritex pun kembali jadi sorotan usai perusahaan tekstil tersebut dinyatakan pailit.

Sejarah Sritex sendiri tidak bisa dipisahkan dari sosok Haji Muhammad Lukminto, pendirinya, yang mengembangkan perusahaan dari bisnis kecil menjadi raksasa tekstil di Asia Tenggara.

Awal mulanya adalah sebuah kios kecil bernama UD Sri Rejeki, yang didirikan oleh Haji Muhammad Lukminto di Pasar Klewer, Solo, pada tahun 1966.

Seiring berjalannya waktu, bisnis kecil ini berkembang pesat, dan Lukminto berhasil mendirikan pabrik tekstil yang kemudian menjadi pilar ekonomi bagi Kabupaten Sukoharjo.

Dalam perkembangannya, Sritex menjadi salah satu perusahaan yang memainkan peran penting dalam industri tekstil nasional.

Pabriknya yang berlokasi di Jalan Samanhudi, Sukoharjo, memiliki skala yang sangat besar, dengan fasilitas produksi yang mencakup seluruh rantai industri tekstil, mulai dari bahan mentah seperti rayon, katun, dan poliester, hingga produk jadi berupa pakaian.

Tak hanya itu, Sritex juga memiliki kantor di pusat ibu kota, yakni di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Sejak tahun 2018, Sritex dikenal memiliki empat lini bisnis utama, yaitu pemintalan, penenunan, pencelupan dan pencetakan, serta produksi pakaian jadi.

Baca Juga: Link Video Collab Msbreewc dan Cia Bocil Viral Diburu Netizen, Durasi Full Berapa Menit? Bikin Penasaran Netizen

Dengan kapasitas produksi mencapai 1,1 juta bal benang per tahun dan 28 juta potong pakaian jadi per tahun, Sritex mampu menguasai pasar tekstil di dalam dan luar negeri.

Salah satu pencapaian penting perusahaan adalah kepercayaan yang diberikan oleh NATO, yang mempercayakan Sritex sebagai salah satu pemasok seragam militernya.

Pada tahun 1997, Angkatan Perang Jerman memesan lebih dari satu juta seragam dari Sritex, diikuti oleh Angkatan Perang Inggris yang memesan 400.000 seragam NATO.

Selain itu, Papua Nugini dan Kantor Pos Jerman juga menjadi pelanggan setia Sritex, dengan pesanan seragam sebanyak puluhan hingga ratusan ribu potong.

Kini, produk Sritex digunakan oleh pasukan militer di lebih dari 30 negara.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sritex tidak tinggal diam.

Perusahaan ini segera beradaptasi dengan memproduksi jutaan masker, sebuah langkah cepat untuk merespons kebutuhan pasar yang melonjak akibat pandemi.

Pada era Orde Baru, Sritex mengalami perkembangan pesat.

Dukungan dari pemerintah, terutama dari Presiden Soeharto, memberikan dorongan besar bagi pertumbuhan perusahaan ini.

Pada tahun 1976, Sritex menjadi perusahaan tekstil terpadu dengan fasilitas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Hubungan dekat Muhammad Lukminto dengan pemerintahan Orde Baru memberi peluang besar bagi Sritex untuk mendapatkan pesanan pembuatan seragam bagi ASN, TNI, dan Polri.

Bahkan pada tahun 1992, Soeharto meresmikan perluasan pabrik baru Sritex yang turut mendukung pertumbuhan sektor industri tekstil di Indonesia.

Baca Juga: Tragis! Warga Sragen Meninggal Akibat Sengatan Listrik di Rumahnya

Kepemimpinan Sritex kemudian diteruskan oleh anak-anaknya, Iwan Setiawan Lukminto dan Iwan Kurniawan Lukminto, yang saat ini memegang jabatan kunci di perusahaan tersebut.

Namun, kejayaan Sritex tak mampu bertahan di tengah krisis utang yang menjeratnya.

Masalah finansial mulai muncul sejak pandemi COVID-19 melanda, yang menyebabkan permintaan produk tekstil menurun drastis.

Upaya perusahaan untuk mengajukan PKPU dan restrukturisasi utang pada 2022 tidak cukup kuat untuk menyelamatkan perusahaan dari krisis keuangan yang lebih dalam.

Kini, dengan status pailit yang telah ditetapkan, masa depan Sritex berada di tangan kurator yang akan mengurus penyelesaian utang perusahaan kepada para kreditur.

Keputusan ini juga menandai runtuhnya salah satu pilar penting dalam industri tekstil nasional, yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian di sektor manufaktur.

Pailitnya Sritex juga menimbulkan kekhawatiran tentang dampak yang lebih luas, terutama terhadap ribuan karyawan dan mitra bisnis yang bergantung pada perusahaan ini. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#pailit #sejarah #bangkrut #PT Sritex #Muhammad Lukminto