Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

BMKG Ungkap Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah, Suhu di Kota Solo Meningkat di Bulan Oktober

Silvester Kurniawan • Rabu, 2 Oktober 2024 | 03:45 WIB
ILUSTRASI kedinginan.
ILUSTRASI kedinginan.

SOLOBALAPAN.COM - BMKG Semarang telah mengeluarkan informasi mengenai kesiapan menghadapi cuaca ekstrem di Provinsi Jawa Tengah selama bulan Oktober 2024.

Cuaca panas yang terjadi belakangan ini di daerah tersebut dipengaruhi oleh fenomena astronomi Kulminasi Utama, yang berlangsung antara 9 hingga 13 Oktober.

Yoga Sambodo, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, menjelaskan bahwa Kulminasi Utama merupakan kondisi di mana posisi matahari berada di titik tertinggi di langit.

Hal ini mengakibatkan bayangan benda dan pengamat tampak menghilang, sehingga sering disebut sebagai hari tanpa bayangan.

“Fenomena ini berkontribusi pada suhu maksimum di Jawa Tengah. Selama 30 tahun terakhir, bulan Oktober mencatatkan suhu tertinggi.

Seperti yang terjadi pada tahun 2015 dengan suhu mencapai 39,5 derajat Celsius, dan 38,1 derajat Celsius pada tahun 2023,” ujar Yoga dalam rilis yang diterbitkan pada Senin (30/9).

Di awal hingga pertengahan Oktober, masa transisi pancaroba berpotensi memicu pembentukan awan Cumulonimbus, yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti petir, angin kencang, hujan es, dan bahkan puting beliung.

Menyikapi hal ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi perubahan cuaca yang tak menentu.

Kondisi panas yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah mendorong Pemerintah Kota Surakarta (Solo) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran dan kekeringan.

Berbagai langkah antisipasi telah diambil oleh instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo.

Kristiana Hariyati, Kepala DLH Kota Solo, menjelaskan bahwa pihaknya meningkatkan patroli di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo untuk mencegah kebakaran.

Selain itu, DLH juga rutin melakukan penyiraman pada tumpukan sampah di TPA guna mengurangi risiko kebakaran yang tiba-tiba.

“Patroli dan penyiraman rutin dilakukan untuk meminimalkan potensi kebakaran. Cuaca panas seperti ini bisa memicu kebakaran dari tumpukan sampah yang kering,” ujar Kristiana.

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo juga meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiagakan petugas selama 24 jam.

Sutarjo, Kepala Dinas Damkar, menjelaskan bahwa mereka secara rutin memeriksa hidran di berbagai lokasi di Kota Solo untuk memastikan ketersediaan air yang cukup saat kebakaran terjadi.

“Petugas selalu siap siaga. Kami juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, karena hal ini dapat memicu kebakaran di lahan kosong, seperti yang sering terjadi di sekitar Solo,” kata Sutarjo.

Selain fokus pada pencegahan kebakaran, Pemerintah Kota Solo juga mewaspadai potensi bencana kekeringan selama puncak musim kemarau ini.

Kepala BPBD Kota Solo, Niko Agus Putranto, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai kekeringan di wilayah Solo, namun tim tetap disiagakan untuk memantau daerah-daerah yang rentan mengalami kekeringan.

“Siaga bencana kekeringan masih berlangsung. Kami memantau sejumlah wilayah rawan dan menyiapkan peralatan bantuan, seperti tendon air portabel dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jika diperlukan,” ujar Niko.

Dengan persiapan dan koordinasi yang baik antara berbagai instansi, diharapkan Kota Solo dapat mengurangi dampak dari fenomena cuaca ekstrem ini. (ves/did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#cuaca ekstrem #suhu #oktober #jawa tengah #bmkg #solo