SOLOBALAPAN.COM, SRAGEN – Berada di Dukuh Mentir, Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen, Petilasan Eyang Somenggolo menjadi salah satu lokasi yang dikenal mistis.
Dianggap keramat oleh warga sekitar, deretan ritual penghormatan masih sering dilakukan di malam-malam tertentu di Petilasan Eyang Somenggolo.
Petilasan Eyang Somenggolo biasanya didatangi oleh orang-orang yang hendak punya hajat.
Seperti ingin menjadi pejabat atau abdi negara, orang-orang tersebut kemudian berdoa di sekitar petilasan yang berada di Sragen itu.
Dari pengakuan sejumlah warga, lokasi Petilasan Eyang Somenggolo cukup wingit dan angker.
Pohon beringin rindang menghiasi Petilasan Eyang Somenggolo yang semakin menguatkan kemistisan lokasi tersebut.
Hingga saat ini, kegiatan seperti bancaan masih sering dilakukan. Terutama saat bersih desa pada bulan Suro.
Perangkat Desa Bener, Wanto menyampaikan warga sekitar menjuluki nama danyang di sekitar petilasan tersebut Mbah Sambi.
Menurut Wanto, banyak warga yang berziarah atau melakukan ritual di kawasan tersebut lewat tengah malam.
Para warga yang datang umumnya membawa bunga dan dupa hio.
”Kalau ke situ mestinya ada keinginan, kalau dibilang banyak, yang jelas ada yang kesitu,” ujarnya.
Dipercaya punya kekuatan, ada juga calon Kepala Desa yang mendatangi lokasi tersebut sebelum pemilihan Kades.
Tapi ada juga yang berharap lulus ujian untuk ujian menjadi abdi negara maupun penegak hukum.
”Jadi ada yang putranya menjadi penegak hukum dan petugas kesehatan,” terangnya.
Wanto menyampaikan masih ada kepercayaan jika ada kondisi alam yang kurang bersahabat.
Seperti ada angin ribut atau hujan deras, ada warga yang berdoa di sekitar kawasan itu agar situasi kembali tenang.
Dia menyampaikan bermacam-macam hajat yang dilantunkan saat berziarah.
”Pada umumnya pada Jumat Legi banyak yang berijazah,” ujar dia.
Soal pemberian nama Mbah Sambi, pihaknya juga tidak tahu persis.
Namun sudah dituturkan sejak nenek moyangnya dahulu. Dia menyampaikan ada yang kurang suka dengan itu, lantas ada yang sengaja melempar kawasan tersebut dengan sampah.
Namun ada pula warga yang tetap melestarikan dengan membersihkan sampah tersebut.
Pihaknya menyampaikan selayaknya masyarakat jawa, pada bulan Suro seperti ini, masih digunakan untuk acara adat bersih desa.
Biasanya juga digelar pertunjukan wayang kulit secara sukarela di kawasan tersebut. Namun pada suro tahun ini, pihaknya belum tahu akan digelar wayangan atau tidak. (din/lz)
Editor : Laila Zakiya