SOLOBALAPAN.COM – Kasus pengeroyokan hingga menewaskan pengusaha rental mobil di Sukolilo, Kabupaten Pati menyedot banyak perhatian.
Termasuk TH, Pengusaha rental Mobil di Tanon yang pernah nyaris menjadi korban pengeroyokan saat mobil rentalnya digelapkan.
Pada wartawan TH mengaku berduka dengan kabar meninggalnya pengusaha rental mobil saat berupaya mengambil mobilnya yang digelapkan.
Lantaran dia sendiri pernah mengalami kejadian yang hampir sama. Namun beruntungnya dia masih selamat dan bisa membawa pulang kendaraan miliknya lagi.
Terkait kejadian di Pati, dia siap berdonasi untuk jalur hukum jika pengusaha rental mobil kompak.
Lantaran sementara ini jaringan rental mobil miliknya baru di wilayah Sragen Barat. Meliputi Tanon, Sumberlawang, Plupuh, Mondokan dan Gemolong.
”Kami sangat menyayangkan jika akan mengambil mobil miliknya justru dipukuli hingga meninggal. Kalau situasi seperti itu harusnya dalam kondisi sadar, ditanyakan dulu kalau mengambil mobil tentu menunjukkan bukti seperti BPKB atau hasil lacak GPS,” jelasnya.
TH menyampaikan juga nyaris kehilangan salah satu mobilnya. Kejadian sekitar 2021 lalu. Saat itu, jaringannya di rental Sumberlawang kehabisan unit mobil dan diarahkan ke miliknya. Kebetulan masih ada 1 unit mobil Honda Mobilio.
Saat itu penyewa menjaminkan KTP yang ternyata palsu. Kemudian juga meninggalkan sepeda motor yang ternyata juga bermasalah. Lantaran sepeda motor itu diburu Depp kolektor. Pada awalnya tidak curiga hingga sinyal GPS mobilnya putus pukul 00.30.
”Putus di wilayah Kandang Menjangan Sukoharjo tengah malam. Namun karena antisipasi saya pasang lebih dari satu GPS dan posisinya di Gawok, Sukoharjo,” ujarnya.
Lantas pihaknya sempat menemui polisi di Polsek setempat. Dia bercerita ada salah satu polisi yang mengetahui lokasinya.
Namun tidak menjanjikan bisa mengambil kendaraanya. Pihaknya meyakini polisi tersebut mengenali oknum yang menggelapkan mobilnya.
Lantaran tidak cukup yakin dengan kepolisian, pihaknya dengan temannya memutuskan untuk mengintai lokasi kendaraan miliknya yang digelapkan.
Benar saja, di lokasi itu terdapat beberapa mobil. Termasuk mobil miliknya yang sudah dirubah plat nomor dan stiker yang sudah dihapus.
”Saya tunggu, waktu itu pukul 02.00 dini hari, masih ada sekelompok orang berjaga. Untung saja mobilnya di tepi jalan, nggak dimasukkan di garasi. Sampai hampir subuh baru orang-orang yang berjaga itu pulang,” ujarnya.
Melihat situasi cukup aman, dia memutuskan segera mengambil dan membawa kabur mobil miliknya dengan kunci cadangan.
Sampai akhirnya bisa kembali ke rumah. ”Kata teman-teman, saya itu cukup beruntung. Kalau sudah dipindah di tangan kedua oleh oknum tertentu nebusnya nggak murah. Pengalaman teman lain, nebus dari oknum sampai Rp 30 juta,” tandasnya. (din/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo