Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Begini Kisah Al Iswat, Berawal Dari Majelis Dzikir Hingga Jadi Pembongkar Makam Terdampak Proyek Tol Solo-Jogja di Klaten.

Angga Purenda • Minggu, 12 Mei 2024 | 19:55 WIB

 

Tim dari Al Iswat saat memindahkan jenazah ke lokasi TPU yang baru di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten
Tim dari Al Iswat saat memindahkan jenazah ke lokasi TPU yang baru di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten

 

SOLOBALAPAN.COM - Pembongkaran makam yang terdampak proyek Pembangunan Jalan Tol Solo-Jogja di Klaten tengah berlangsung.

Dilaksanakan oleh sebuah tim yang bernama Al Iswat asal Semarang. Lantas siapa dan bagaimana mereka memindahkan ribuan jenazah dengan layak?

Warga Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten menggelar dzikir tahlil yang tak jauh dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat pada Kamis (9/5).

Hal itu dilakukan untuk mengawali pemindahan 208 makam yang terdampak proyek Tol Solo-Jogja.

Begitu juga tampak beberapa orang menggunakan kaos hitam bertuliskan Al Iswat (Al Fatihah-Istighfar-Sholawat).

Salah satu orang yang menggunakan kaos hitam tersebut adalah Dwi Joko Yudho, 53, sebagai Ketua Al Iswat.

Dia yang selama ini menjadi koordinator utama dari pelaksaaan pemindahan makam yang terdampak proyek tol di Klaten.

Tak hanya di Kranggan saja, tapi di beberapa desa seperti Beku, Brangkal, Ngabeyan di Kecamatan Karanganom dengan total jumlah 1.000 jenazah sudah dipindahkan.

Tapi siapa sangka Al Iswat yang selama ini dipercaya memindahakan makam di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu merupakan majelis dzikir yang berkembang di Ngaliyan, Semarang.

Baca Juga: Wow! Uniba Surakarta Luluskan 177 Wisudawan, 131 di Antaranya Bergelar Cumlaude

Hingga akhirnya dipercaya pertama kali memindahkan makam yang terkena kawasan industry di Semarang pada 2009.

Berlanjut pada 2010 dipercaya memindahkan makam pada TPU yang terkena proyek Jalan Tol Solo-Semarang.

Begitu juga pada 2018 kembali dipercaya memindahkan makam yang terdampak proyek Tol Semarang-Batang.

Lalu dimintai untuk memindahkan makam yang terkena proyek kilang minyak Pertamina di Tuban, Jawa Timur.

Ketua Al Iswat Dwi Joko Yudho kepada radarsolo.com, saat ditemui beberapa waktu lalu mengatakan, “Kembali lagi ke Jawa Tengah untuk memindahkan makam yang terkena proyek Tol Solo-Jogja."

"Dari Kateguhan, Boyolali hingga di beberapa desa di Klaten sampai saat ini. Sudah ribuan jenazah yang kami pindahkan dengan berbagai kondisi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Joko mengungkapkan, kemampuan untuk membongkar makam hingga menguburkan kembali jenazah dengan layak diajarkan oleh para guru dan habib.

Mereka terus memberikan ilmunya dan mendampingi setiap proses pemindahan makam. Seperti yang berlangsung di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Ia mengungkapkan, dalam memindahkan makam tidak bisa dilakukan sembarangan. Bahkan ada tahapan yang harus dilalui.

Termasuk diadakan dzikir tahlil untuk mengawali kegiatan pembongkaran makam.

Bahkan mempersilakan pemuka agama lainnya untuk mendoakan terlebih dahulu pada makam yang hendak dipindahkan.

Setiap kali hendak membongkar makam. Al Iswat terbagi dalam beberapa tim. Mulai dari tim pembongkar makam, mengkafani, penggali kubur makam baru hingga bagian administrasi yang mencatat pendataan makam.

Termasuk dilengkapi peralatan seperti hammer jack, cangkul hingga linggis untuk membongkar nisan makam.

Ia mengatakan, “Dari slametan itu lalu kami bongkar makamnya. Jenazah yang terangkat dalam kondisi apa pun kemudian kami kafani tiga lapis." 

Kenapa sampai tiga lapis, agar jazadnya tidak kelihatan dan lebih tebal seperti awal-awal dimakamkan. Itu sebagai bentuk penghormatan kami kepada jasad,” tambah Joko.

Seusai dikafani, lalu diberikan wangi-wangi dengan bau harum yang semerbak. Terakhir, diberikan air zam-zam yang dinilainya untuk menyempurnakan jasad sebelum dimasukan ke liang kubur di TPU yang baru.

Proses yang sama dilalui pada jenazah non-muslim. Hanya saja yang membedakan tidak dikafani melainkan dimasukan dalam peti.

“Saat memasukan ke liang kubur baru itu, kami juga kirim doa. Termasuk ahli waris kami persilakan untuk kirim doa. Sampai saat ini tidak pernah ada kendala,” ujar Joko.

Selama melakukan pembongkaran makam terdampak proyek tol di Klaten menemui berbagai kondisi jenazah.

Seperti sudah berupa tanah hingga tinggal tengkorak saja. Tetapi dalam kondisi secara utuh khususnya di Klaten belum pernah ditemuinya.

Joko berujar, “Hanya saja saat melakukan pemindahan makam di Desa Brangkal pada November 2023 pernah menemukan keping koin berlogo Vereenigde Oost-Indische Campagnie (VOC) di salah liang kubur."

Itu menandakan bahwa kuburan makam di Klaten ini merupakan makam-makam tua (ren/di)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#makam #Polanharjo #klaten #solo-jogja #al iswat #solo #proyek tol