SOLOBALAPAN.COM - Perajin bambu wulung di Karanganyar, Jawa Tengah, tengah dilanda kesulitan.
Pasalnya, saat ini bukan musimnya bambu wulung yang merupakan bahan utama dalam karya mereka.
Hal ini membuat banyak perajin terpaksa berhenti berproduksi. Salah satu perajin tersebut adalah Agus.
Agus sudah menjadi perajin bambu wulung sejak tahun 2000.
Da belajar secara otodidak dan menghasilkan berbagai produk seperti meja, kursi, celengan, dan pigura.
"Kalau lagi musim bambu, saya bisa produksi kursi dua buah sehari. Kalau pigura bisa selesai dalam sehari," ungkap Agus
Namun, saat ini Agus sudah hampir tiga bulan tidak bisa memproduksi kerajinan bambu karena tidak ada bahan baku. Ia pun harus kehilangan pendapatannya.
"Omzet per bulan saya kalau lagi ramai bisa mencapai Rp3 juta," jelas Agus.
"Tapi kalau lagi sepi dan tidak musim bambu, tidak ada pendapatan," keluhnya.
Agus berharap pemerintah dapat membantu para perajin bambu wulung seperti dirinya.
Dia ingin pemerintah memfasilitasi para perajin agar bisa meningkatkan produksi dan pemasarannya.
"Saya senang bisa menyalurkan bakat dan keterampilan saya dalam membuat kerajinan bambu wulung," terang Agus.
"Tapi, saya harap pemerintah bisa membantu kami agar bisa terus berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas," harapnya.
Agus juga mengeluhkan kurangnya dukungan dari pemerintah untuk para perajin bambu wulung.
Dia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan dalam hal pembinaan, pelatihan, dan pemasaran produk.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan pemasaran kerajinan bambu wulung di Karanganyar antara lain:
- Mengembangkan varietas bambu wulung yang tidak musiman.
- Membangun sentra industri bambu wulung.
- Memberikan pelatihan dan pembinaan kepada para perajin.
- Membantu para perajin dalam memasarkan produknya melalui e-commerce dan pameran.
Para perajin bambu wulung di Karanganyar berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar.
Dengan demikian, mereka dapat terus berkarya dan menghasilkan produk yang berkualitas, serta meningkatkan taraf hidup mereka. (mg2/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro