Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

12 Warga Sukoharjo Kehilangan Nyawa karena Leptospirosis Sejak 2021, Yuk Ketahui Penyebabnya

Iwan Kawul • Kamis, 29 Februari 2024 | 00:15 WIB
Kapolres Sukoharjo AKBP Sigit didampingi anggota taksiyah di rumah duka Suharja, Sabtu (24/2) lalu (IWAN KAWUL/ RADAR SOLO)
Kapolres Sukoharjo AKBP Sigit didampingi anggota taksiyah di rumah duka Suharja, Sabtu (24/2) lalu (IWAN KAWUL/ RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Genangan air yang hadir di beberapa wilayah di Solo Raya karena hujan deras belakangan ini diketahui juga membawa serta berbagai penyakit bersamanya.

Salah satu penyakit tersebut adalah leptospirosis. 

Dilansir dari Alodokter, leptospirosis adalah penyakit yang mirip flu tapi disertai bengkak di kaki dan tangan, serta kulit yang menjadi kuning.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans melalui kencing hewan seperti tikus.

Kencing tikus yang terkontaminasi bakteri tentu bisa mudah menyebar dengan lewat genangan.

Di salah satu daerah di wilayah Solo Raya, Sukoharjo, leptospirosis ini sudah menjadi momok dalam beberapa tahun terakhir.

Setiap tahunnya, jumlah kasus meninggal dunia karena leptospirosis cenderung fluktuatif.

Selama 4 tahun belakangan ini, tahun 2022 merupakan temuan kasus meninggal dunia terbanyak mencapai 7 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, mengatakan bahwa jumlah kasus meninggal dunia karena leptospirosis di Sukoharjo berbeda-beda setiap tahunnya.

Kasus ini mencapai jumlah tertinggi pada 2022 yakni mencapai 7 orang.

"Pada tahun 2021 setidaknya 1 orang meninggal dunia," kata Tri Tuti Rahayu, Rabu (28/2).

"2022 ada 7 meninggal dunia. Lalu, 2023 ada 3 meninggal dunia. Semoga, 2024 ini hanya 1," lanjutnya.    

Di Sukoharjo, seluruh kasus leptospirosis dilakukan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Upaya yang sudah dilakukan dalam upaya pengendalian kasus leptospirosis adalah sosialisasi tentang penyakit, pencegahan, hingga upaya pengendalian.

"Penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi, dan bencana alam," lanjut Tuti.

"Pada saat banjir, bakteri ini terbawa oleh air kencing tikus dan menjangkit warga yang terkena korban bencana banjir."

"Penyakit satu ini layak untuk diwaspadai, mengingat lingkungan yang terkena banjir sangat riskan disinggahi bakteri ini," pungkasnya. (kwl/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#sukoharjo #solo #leptospirosis