SOLOBALAPAN.COM – Aktivitas pengolah air di IPAL Jurug, Jebres dan Semanggi sepekan lalu sudah terganggu sebanyak dua kali, yakni pada Senin (11/12) dan Kamis (14/11).
Hal ini dibenarkan oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) PDAM Solo Bayu Tunggul.
"Tapi yang dua kemarin masih punya stok air yang layak," katanya seperti dikutip dari Radar Solo.
"Masih bisa untuk mencukupi pasokan ke pelanggan sambil menunggu kualitas bahan baku membaik."
"Belum sempat habis, kami sudah bisa mengolah. Tapi untuk kali ini stok sudah habis, air tidak bisa diolah," jelasnya.
Kala itu, petugas dari DLH, SAR, dan sistem pengawasan masyarakat (siswasmas) sempat patroli di kawasan terdampak limbah menggunakan perahu.
Namun, hal tersebut sudah terlambat. Sebab patroli baru dilakukan ketika limbah sudah hilang.
Bayu menjabarkan, untuk IPAL Jurug mampu memproduksi air 100 liter per detik, IPAL Jebres memproduksi 50 liter air per detik.
Kemudian, ada IPAL Semanggi yang bisa memproduksi 80 liter air per detik.
Setiap 1 liter per detik bisa untuk mencukupi kebutuhan 80 pelanggan.
"Jadi tinggal dikali saja berapa banyak yang terdampak," ucapnya.
Bila produsi dihentikan dalam kurun waktu 1x24 jam, Bayu mengatakan, pihaknya telah menyiapakan sejumlah tangki air guna melakukan droping ke pemukiman warga yang terdampak.
Bayu menuturkan, masyarakat perlu tahu, apabila ada gangguan pada penyaluran air karena pengolahan pada IPAL terganggu, maka tergantung dari kondisi sungai.
"Banyak keluhan yang masuk ke kami. Padahal kami hanya operator. Yang menjamin kualitas air yang menjadi bahan baku kami adalah DLH, (BPWSBS) dan PJT.
Karena hal ini terjadi setiap kemarau, Bayu meminta pihak yang memiliki wewenang tinggal berlaku tegas.
Apalagi sudah ada regulasi, yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanana (Permen LHK) No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.
"Tinggal menegakkan regulasi saja ya. Jadi saya minta pihak yang memiliki wewenang itu semaksimal mungkin," urainya.
"Kalau seperti ini terus, kami operator yang notabennya membayar ke Jasa Tirta ya rugi."
"Padahal ini untuk kepentingan masyarakat. Kalau seperti ini terus tidak ada solusi," kata Bayu. (atn/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro