SOLOBALAPAN.COM — Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) membongkar tabir kelam sepak bola tanah air.
Sebanyak 28 klub dari berbagai tingkatan kasta kompetisi dilaporkan masih menunggak gaji para pemainnya dengan total nilai fantastis mencapai Rp 14,8 miliar.
Mirisnya, dari puluhan klub bermasalah tersebut, terselip nama tim-tim besar dan mentereng. Mulai dari sang juara Liga 1 2022/2023 PSM Makassar, hingga tim promosi PSBS Biak.
Legal APPI, Mohammad Agus Riza Hufaida, membeberkan bahwa kasus tunggakan gaji ini terjadi merata dari kasta teratas (Super League) hingga kompetisi kasta bawah (Liga 4).
Total ada 303 pemain yang hak finansialnya tersendat, baik yang masih dalam tahap laporan maupun berstatus keputusan NDRC (National Dispute Resolution Chamber) yang diabaikan klub.
"Ini pada saat ini di APPI, total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan total nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian," tegas Riza dalam acara diskusi Water Break PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Mees Hilgers Bakal Jadi Pemain Inti atau Cadangan? Resmi Gabung SC Heerenveen Pakai Nomor Punggung 2
Daftar Lengkap 28 Klub Menunggak Gaji Versi APPI
Riza merinci deretan klub yang hingga kini belum merampungkan kewajiban finansialnya kepada para pemain.
Di antaranya adalah PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, dan Persikota Tangerang.
Kemudian ada Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, PSBS Biak dan terakhir Waanal Brother FC.
Soroti PSBS Biak dan Sentil Aturan Lisensi Klub
Riza secara khusus menyentil persoalan yang membelit PSBS Biak. Masalah pembayaran gaji pemain di klub tersebut dilaporkan sudah mencuat sejak empat bulan sebelum kompetisi musim lalu rampung. Hingga saat ini, hak para pemain belum dipenuhi sepenuhnya.
Ia menilai bahwa impian untuk membawa industri sepak bola Indonesia naik kelas bakal menjadi omong kosong belakangan jika pemenuhan hak mendasar pemain masih terus terabaikan.
"Dan hak pemain ini, ya kalau ada hadis yang bilang bahwa bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering," tutur Riza menyentil pimpinan klub.
Guna memberikan efek jera, APPI mendesak regulasi tegas berupa penerapan zero tolerance pada proses lisensi klub (club licensing).
Klub yang masih terbukti berutang gaji dilarang keras untuk berkompetisi di musim depan.
"Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu masih menjadi problem. Harusnya sudah kita tinggalkan di beberapa tahun lalu. Dan ini ke depan sudah tidak boleh lah, minimal Liga 1 jangan sampai terjadi," pungkasnya tegas. (dam)
Editor : Damianus Bram