SOLOBALAPAN.COM – Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya menyerah dan resmi menarik mundur proposal penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Langkah mundur ini diambil setelah wacana tersebut memicu gelombang penolakan masif dan ancaman boikot dari berbagai konfederasi sepak bola dunia serta pejabat internal FIFA sendiri.
Rencana megaproyek bernilai fantastis USD 4,2 miliar (sekitar Rp 75,6 triliun) itu resmi dihentikan karena dinilai memicu perpecahan sengit dalam lanskap sepak bola global.
Baca Juga: Berbeda Sikap dari Konfederasi Lain, Ketum PSSI Dukung Rencana FIFA Bentuk FFE
Infantino: Proyek Ini Menciptakan Perpecahan
Melalui skema FIFA Forward Enterprise (FFE), Infantino awalnya berencana membentuk anak perusahaan baru untuk mengelola hak siar, sponsor, lisensi, hingga penjualan tiket Piala Dunia.
FIFA berniat melepas sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut kepada eksternal, termasuk menggandeng perusahaan investasi Thrive Capital milik Joshua Kushner.
Namun, setelah mendengar dinamika dan penolakan keras dari berbagai pihak, Infantino memilih membatalkan rencana tersebut demi menjaga kedamaian organisasi.
"Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan utama FIFA," ujar Infantino.
"Tujuan kami selalu sama, yakni mempersatukan dan memajukan sepak bola di seluruh dunia. Karena itu, proposal ini tidak akan diteruskan," tegasnya.
Gelombang Penolakan dari UEFA, AFC, hingga Isu Boikot
Penolakan keras pertama kali digelorakan oleh UEFA yang secara terbuka mengancam akan memboikot seluruh turnamen resmi FIFA jika proposal FFE tetap dilanjutkan.
Langkah UEFA tersebut langsung disusul oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) serta Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).
Sementara itu, CONMEBOL memilih mendesak FIFA agar tidak mendahulukan kepentingan komersial di atas nilai dasar olahraga.
Bahkan, janji manis berupa suntikan dana insentif sebesar USD 40 juta (sekitar Rp720 miliar) bagi federasi anggota yang mau mendukung proyek ini gagal melunakkan penolakan yang ada.
Tekanan Internal: Disebut 'Proyek Satu Orang'
Tak hanya dari luar, benteng pertahanan Infantino runtuh akibat tekanan hebat dari internal badan pengurus FIFA sendiri.
Penasihat Senior FIFA, Carlos Cordeiro, memilih mundur dari jabatannya sebagai bentuk protes dan menyebut wacana ini sebagai "kesepakatan yang buruk".
Kritik tajam juga datang dari Chief Operating Officer (COO) FIFA, Kevin Lamour. Ia secara blak-blakan menuding bahwa proyek FFE bukanlah agenda resmi organisasi, melainkan hanya "proyek pribadi satu orang" yang dijalankan tanpa transparansi.
Atas dasar desakan bertubi-tubi dari luar dan dalam tersebut, Gianni Infantino akhirnya memilih menghentikan proposal FFE dan berjanji akan merangkul kembali seluruh pemangku kepentingan untuk mencari jalan tengah dalam memajukan sepak bola dunia. (dam)
Editor : Damianus Bram