SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Rencana kontroversial Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual saham hak komersial dan operasional Piala Dunia serta turnamen lainnya ke investor swasta menuai pro-kontra sengit di jagat sepak bola internasional.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengindikasikan dukungannya terhadap gagasan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) tersebut demi menopang kebutuhan pendanaan transformasi sepak bola nasional dan kawasan Asia Tenggara.
Sikap terbuka yang ditunjukkan Erick Thohir ini cukup menyita perhatian lantaran berdiri di tengah gelombang penolakan keras dari konfederasi raksasa dunia seperti UEFA dan CONCACAF, serta rasa kecewa yang dilayangkan oleh induk sepak bola Asia, AFC.
Erick Thohir Soroti Kebutuhan Pendanaan Transformasi Sepak Bola
FFE diproyeksikan sebagai entitas bisnis anak perusahaan FIFA yang mengelola penjualan hak-hak komersial serta operasional turnamen global dengan nilai valuasi fantastis mencapai 20 miliar dolar AS (sekitar Rp361 triliun).
Menurut Erick Thohir, pemupukan modal dari FFE berpotensi besar meningkatkan standar sepak bola dunia, khususnya bagi negara-negara berkembang.
Ia juga menyinggung tren positif transformasi sepak bola Indonesia dalam tiga tahun terakhir, di mana posisi Timnas Indonesia di pemeringkatan FIFA berhasil melesat dari urutan 174 ke 118 dunia.
Pernyataan Ketum PSSI (Erick Thohir via Sky News): "Sepak bola Indonesia telah mengalami transformasi dalam tiga tahun terakhir, sudah banyak dibenahi... Peringkat tim nasional telah naik dari 174 menjadi 118. Demi melanjutkan transformasi ini, dibutuhkan pendanaan.
Jika anggota FIFA menyetujuinya, hal itu akan menunjukkan adanya permintaan agar kesepakatan ini terwujud," jelas Erick, Kamis (30/7/2026).
Gelombang Penolakan UEFA, CONCACAF, dan Kekecewaan AFC
Meski mendapat sinyal dukungan dari PSSI, wacana FIFA ini memicu benturan keras dari konfederasi benua lain.
UEFA (55 negara anggota) dan CONCACAF (41 negara anggota) secara eksplisit menentang proposal FFE. Mereka menilai Piala Dunia adalah warisan (heritage) tertinggi olahraga yang tidak boleh dijadikan komoditas investasi swasta.
Di sisi lain, AFC yang membawahi federasi Indonesia menyuarakan kekecewaan mendalam atas minimnya konsultasi transparan dari pihak FIFA terkait rancangan keputusan berdampak besar tersebut.
Sikap Menolak UEFA & CONCACAF: "UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu padu. Kami dengan suara bulat dan tegas menolak usulan FIFA... Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi," bunyi pernyataan resmi UEFA.
CONCACAF turut menegaskan penolakannya akibat minimnya transparansi dan tenggat waktu yang dinilai dipaksakan secara tidak wajar.
Guna meloloskan proyek FFE, FIFA wajib mengantongi dukungan suara minimal 50 persen plus satu dalam kongres (minimal 106 suara dari total 211 negara anggota). Sementara itu, aliansi penolakan UEFA dan CONCACAF saja sudah memegang 96 suara yang siap memblokir proposal tersebut.
Tabel Pemetaan Sikap Stakeholder Sepak Bola Terhadap FIFA Forward Enterprise (FFE)
Guna memberikan pemetaan informasi mengenai rincian inisiatif FFE, valuasi bisnis, serta perbedaan sikap antar-asosiasi secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Komponen Informasi | Detail Fakta & Sikap Konfederasi/Federasi |
| Inisiatif Komersial | Pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) oleh FIFA |
| Bentuk Aksi Korporasi | Penjualan saham hak komersial & operasional Piala Dunia ke investor swasta |
| Proyeksi Valuasi FFE | 20 Miliar Dolar AS (sekitar Rp361 Triliun) |
| Sikap PSSI / Erick Thohir | Mendukung (Dibutuhkan untuk pendanaan berkelanjutan & pembenahan fasilitas) |
| Sikap UEFA (55 Negara) | Menolak Tegas (Menolak Piala Dunia dijadikan aset komoditas investasi) |
| Sikap CONCACAF (41 Negara) | Menolak Tegas (Soroti cacat transparansi & tata kelola yang tidak matang) |
| Sikap AFC (Asia) | Kecewa (Menilai kurangnya proses dialog serta konsultasi yang memadai) |
| Syarat Kelolosan | Butuh minimal 106 suara (50%+1 dari 211 negara anggota FIFA) |
Dinamika penolakan yang mendekati batas mayoritas suara ini diprediksi akan membuat wacana komersialisasi Piala Dunia oleh FIFA menjadi perdebatan paling panas menjelang Kongres Resmi FIFA mendatang.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo