Hubungan FIFA dan UEFA Memanas! Aleksander Čeferin Nekat Boikot Final Piala Dunia 2026, Ada Apakah?

Damianus Bram • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:56 WIB
alexander ceferin (x @polymarketsport)
alexander ceferin (x @polymarketsport)

 

SOLOBALAPAN.COM – Laga final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina tak sekadar menyajikan duel panas di lapangan hijau, tetapi juga memotret meruncingnya hubungan antara FIFA dan UEFA.

Sorotan utama tertuju pada kosongnya kursi Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, di tribune VIP. Keputusan ini diyakini sebagai bentuk boikot dan puncak dari serangkaian perselisihan sengit dengan FIFA.

Dilansir dari The Chosun via JawaPos.com, Čeferin secara sadar memilih absen dari laga puncak tersebut akibat ketidaksepakatan mendasar terkait prosedur disipliner, tata kelola perwasitan, hingga manajemen operasional turnamen.

Kendati tak memberikan pernyataan resmi, sumber internal mengonfirmasi bahwa tensi hubungan antara kedua badan sepak bola terbesar di dunia tersebut memburuk drastis dalam beberapa pekan terakhir.

Loloskan Sanksi Balogun Hingga Masalah Visa Wasit

Salah satu pemantik utama kemarahan UEFA adalah keputusan intervensi FIFA yang mendadak membatalkan sanksi skors otomatis bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Usai diganjar kartu merah, Balogun yang seharusnya absen satu laga justru diperbolehkan tampil menghadapi Belgia di babak 16 besar. UEFA menilai kebijakan FIFA tersebut mencederai prinsip disipliner dan merusak integritas kompetisi.

Tak berhenti di situ, perselisihan makin merembet ke ranah perwasitan. Wasit asal Somalia, Omar Abdulqadir Artan, gagal bertugas di Piala Dunia 2026 karena tidak mendapatkan visa masuk ke Amerika Serikat.

Sebagai bentuk "sindiran" sekaligus respons atas kegagalan FIFA, UEFA justru menunjuk Artan untuk memimpin laga bergengsi Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain melawan Aston Villa pada Agustus mendatang.

Selain itu, kubu Eropa juga melontarkan kritik pedas terkait cara FIFA menangani laga yang melibatkan Timnas Iran serta dinamika geopolitik lainnya yang dinilai inkonsisten.

Ubah Aturan Main Sepihak

Perbedaan pandangan juga terjadi dalam hal teknis penyelenggaraan di lapangan. FIFA memberlakukan kebijakan water break (jeda minum) wajib akibat cuaca panas ekstrem di Amerika Utara, serta memperpanjang durasi jeda babak pertama (halftime) khusus pada laga final.

Meski FIFA mengklaim langkah tersebut diambil demi keselamatan dan kesehatan pemain, pihak UEFA merasa tidak nyaman karena perubahan regulasi dilakukan secara sepihak tanpa koordinasi matang dengan mereka.

Di tengah memanasnya konflik internal federasi, Spanyol sukses merengkuh gelar juara Piala Dunia keduanya usai menundukkan Argentina dengan skor tipis 1-0 lewat babak perpanjangan waktu.

Namun di balik perayaan trofi Tim Matador, kursi kosong Aleksander Čeferin di tribun kehormatan menjadi simbol nyata retaknya hubungan dua raksasa penguasa sepak bola dunia.

Mengingat banyaknya agenda besar seperti Piala Super UEFA, reformasi kompetisi antarklub, hingga padatnya kalender internasional, perang dingin antara FIFA dan UEFA diprediksi masih akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. (dam)

Editor : Damianus Bram
Sumber : jawapos.com
fifa Aleksander Čeferin final uefa piala dunia 2026