SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Partai puncak final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina vs Spanyol pada Senin (20/7/2026) berakhir dengan tensi tinggi dan kericuhan.
Laga yang digelar di MetLife Stadium, East Rutherford, tersebut diwarnai aksi tidak sportif gelandang Argentina, Leandro Paredes, yang kedapatan mencekik bek Spanyol Eric Garcia dan membanting Gavi usai peluit panjang dibunyikan.
Kekalahan tipis 0-1 Argentina dari Timnas Spanyol memicu frustrasi mendalam bagi skuad Tim Tango hingga berujung bentrokan massal antarpemain di tengah lapangan.
Aksi Anarkis di Depan Wasit dan Dua Kartu Merah Argentina
Aksi anarkis pemain asal Boca Juniors berusia 32 tahun itu terjadi tepat di hadapan mata asisten wasit Tomaz Klancnik serta pelatih Argentina, Lionel Scaloni.
Paredes secara mendadak menghampiri Eric Garcia, mencekik lehernya, lalu mendorongnya hingga memicu bentrokan besar antara kedua kubu.
Tak berhenti di situ, mantan pemain Paris Saint-Germain (PSG) tersebut juga membanting gelandang muda Spanyol, Gavi.
Atas tindakan tak terpujinya, wasit langsung menganugerahi kartu merah untuk Paredes.
Ini menjadi kartu merah kedua bagi Timnas Argentina di partai final, setelah sebelumnya Enzo Fernandez diusir dari lapangan akibat menerima kartu kuning kedua usai mengganjal bek Spanyol, Pau Cubarsi, menjelang akhir babak kedua.
Komite Disiplin FIFA kini tengah bersiap menjatuhkan sanksi skorsing berat untuk Paredes melebihi larangan otomatis satu pertandingan.
Pengakuan Paredes: Tersulut Ejekan Provokatif Soal Lionel Messi
Dalam wawancaranya bersama media Spanyol COPE usai pertandingan, Paredes membeberkan alasannya tersulut amarah hingga berbuat kasar.
Ia mengklaim para pemain muda Spanyol sengaja mendatangi dan melontarkan kalimat provokatif yang merendahkan kapten tim mereka, Lionel Messi.
Klarifikasi Leandro Paredes: "Gavi datang setelah peluit akhir dibunyikan saat semua orang merayakannya. Dia melihat saya dan berkata dalam bahasa Spanyol bahwa tidak ada wasit atau VAR yang membantu Messi hari ini. Saya tidak bisa menerima itu. Sikapnya tidak sopan, terutama setelah pertandingan berakhir," tegas Paredes.
Pengakuan tersebut dikuatkan oleh bek Manchester United, Lisandro Martinez, yang berada di dekat lokasi kejadian.
Martinez menyebut Eric Garcia juga sempat berteriak "Messi kalah dan sekarang kalian semua pulang", yang mendidihkan emosi Paredes di tengah luka kekalahan final.
Tabel Pemetaan Insiden Keributan Final Piala Dunia 2026
Guna memberikan rincian data dan kronologi insiden pasca-laga secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman faktanya:
| Komponen Insiden | Detail Kejadian & Rincian Lapangan | Catatan Tambahan & Sanksi |
| Laga / Skor Akhir | Final Piala Dunia 2026: Argentina 0-1 Spanyol | Digelar di MetLife Stadium, East Rutherford (20 Juli 2026). |
| Pelaku Utama | Leandro Paredes (Argentina / Boca Juniors) | Mengaku emosi akibat kapten Lionel Messi dihina lawan. |
| Korban Aksi Kasar | Eric Garcia (Dicekik) & Gavi (Dibanting) | Terjadi tepat setelah peluit panjang tanda usainya laga dibunyikan. |
| Kartu Merah Argentina |
1. Enzo Fernandez (Kumulatif Kuning) 2. Leandro Paredes (Kartu Merah Langsung) |
Argentina mengakhiri laga final dengan kehilangan dua pemain. |
| Pemicu Keributan | Ejekan terkait Messi & narasi "Anak Emas FIFA" | Pemain Spanyol sebut Messi tak lagi dibantu wasit dan VAR. |
| Potensi Sanksi FIFA | Peninjauan Komite Disiplin FIFA | Diprediksi menerima sanksi skorsing panjang dari FIFA. |
Perpanjangan Isu 'Anak Emas FIFA' di Piala Dunia 2026
Kericuhan ini semakin memperpanjang kontroversi yang mengiringi langkah Argentina sepanjang gelaran Piala Dunia 2026.
Isu mengenai Tim Tango sebagai "anak emas" kepemimpinan wasit FIFA memang sempat mengemuka, salah satunya disuarakan oleh pelatih Mesir, Hossam Hassan.
Usai tersingkir di babak 16 besar, Hassan menyindir banyaknya keputusan kontroversial wasit yang dianggap selalu menguntungkan Argentina.
Sindiran mengenai keberadaan VAR inilah yang diduga diungkit oleh para pemain Spanyol hingga memicu aksi fisik dari Paredes.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo