SOLOBALAPAN.COM – Tidak banyak klub sepak bola di Indonesia yang mampu bertahan lebih dari satu abad. PSM Makassar menjadi salah satu pengecualian. Berdiri sejak 2 November 1915, klub berjuluk Juku Eja itu bukan hanya menjadi klub sepak bola tertua di Indonesia, tetapi juga telah menjelma sebagai simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Didirikan oleh Syamsuddin Daeng Rewa dan Achmad Saggaf dengan nama Macassaarsche Voetbalbond (MVB), PSM lahir sebagai wadah yang menyatukan berbagai komunitas sepak bola di Makassar tanpa membedakan latar belakang suku maupun ras.
Lebih dari satu abad kemudian, PSM tetap berdiri kokoh sebagai salah satu ikon sepak bola nasional yang memiliki basis suporter fanatik dan sejarah panjang di kompetisi Indonesia.
Lebih dari Klub Sepak Bola
Bagi masyarakat Makassar, PSM bukan sekadar tim yang berlaga di lapangan hijau. Klub ini telah menjadi bagian dari identitas daerah dan simbol harga diri masyarakat Sulawesi Selatan.
Seiring perkembangan zaman, PSM terus bertransformasi mengikuti tuntutan sepak bola modern. Profesionalisme dalam pengelolaan klub, pembinaan pemain, hingga peningkatan prestasi menjadi fokus agar Juku Eja tetap mampu bersaing di level tertinggi.
Perjalanan panjang tersebut juga membentuk karakter klub yang dikenal pantang menyerah, baik saat meraih kesuksesan maupun ketika menghadapi masa-masa sulit.
Prestasi yang Mengukuhkan Nama PSM
Selama lebih dari satu abad perjalanan, PSM Makassar telah mengoleksi berbagai prestasi bergengsi.
Puncaknya terjadi pada musim 2022/2023 ketika tim asuhan Bernardo Tavares sukses menjuarai BRI Liga 1, mengakhiri penantian gelar liga selama lebih dari dua dekade.
Keberhasilan itu semakin menegaskan posisi PSM sebagai salah satu klub elite Indonesia yang mampu bangkit melalui pengelolaan yang disiplin dan efisien.
Selain gelar Liga 1, PSM juga beberapa kali menjuarai kompetisi Perserikatan serta tampil mewakili Indonesia di berbagai ajang Asia.
Tantangan Infrastruktur
Di balik prestasi tersebut, PSM masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan infrastruktur.
Direktur Utama PSM Makassar, Munafri Arifuddin, pernah mengungkapkan bahwa klub profesional membutuhkan tiga fondasi utama, yakni infrastruktur, prestasi, dan kondisi finansial yang sehat.
Menurutnya, selama belum memiliki stadion sendiri, perjalanan PSM untuk berkembang akan selalu menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat klub untuk terus berprestasi. Gelar juara Liga 1 2022/2023 menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih sukses.
Melahirkan Banyak Legenda
PSM Makassar juga dikenal sebagai salah satu klub yang melahirkan banyak pemain legendaris bagi sepak bola Indonesia.
Nama-nama seperti Ramang, Rasyid Dali, hingga Ronny Pattinasarany menjadi bagian dari sejarah besar sepak bola nasional.
Ramang bahkan dikenang sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan menjadi ikon PSM hingga kini.
Menatap Masa Depan
Memasuki usia ke-110 tahun, PSM Makassar terus berupaya menjaga eksistensinya di tengah semakin kompetitifnya industri sepak bola nasional.
Dengan sejarah panjang, basis suporter yang loyal, serta identitas yang kuat, Juku Eja diharapkan mampu terus menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan sekaligus menjaga statusnya sebagai salah satu klub terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. (an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com