SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Kejutan besar kembali tercipta di panggung bergengsi Piala Dunia 2026.
Tim non-unggulan, Cape Verde (Tanjung Verde), sukses memaksa salah satu tim raksasa kandidat juara, Spanyol, bermain imbang tanpa gol 0-0 pada laga fasa grup yang digelar Senin (15/6/2026) malam pukul 23.00 WIB.
Aktor utama di balik keberhasilan fenomenal ini adalah sang penjaga gawang gaek Cape Verde, Vozinha.
Kiper berusia 40 tahun tersebut tampil bak pahlawan di bawah mistar gawang setelah berhasil meredam agresivitas serangan bertubi-tubi dari anak-anak asuh Tim Matador.
Dari total 23 tembakan yang dilesatkan oleh para pemain Spanyol, Vozinha secara heroik berhasil mementahkan 8 tendangan krusial yang mengarah tepat ke gawangnya.
Berkat performa magisnya tersebut, ia secara mutlak dianugerahi gelar Man of The Match di akhir laga.
Kisah Unik di Balik Nama 'Vozinha' dan Arti Kehadiran Kakek-Nenek
Penjaga gawang veteran ini memiliki nama asli Josimar Jose Evora Dias, lahir di Cape Verde pada 3 Juni 1986.
Alih-alih memajang nama aslinya, ia memilih menggunakan nama julukan masa kecilnya, "Vozinha", di punggung jersi bertandingnya.
Dalam bahasa setempat, Vozinha memiliki arti "Suara".
Nama ini terasa sangat relevan dengan karakter kepemimpinannya di atas lapangan yang selalu lantang memberikan komando pertahanan kepada rekan-rekannya saat digempur oleh lini depan Spanyol.
Kepada FIFA, Vozinha menceritakan bahwa nama julukan tersebut merupakan pemberian dari kakek dan neneknya. Sejak lahir, ia memang tidak tinggal bersama kedua orang tuanya karena kondisi ekonomi.
"Ketika saya lahir, ayah saya sedang menjalani dinas militer dan ibu saya harus bekerja keras untuk mencari nafkah, jadi saya selalu dibesarkan oleh kakek dan nenek saya," kenang Vozinha.
Ia juga membeberkan fakta unik bahwa sang ayah sebenarnya berniat menamainya Jorge Valdano—terinspirasi dari legenda sepak bola Argentina.
Namun, rencana itu digagalkan oleh petugas registrasi sipil yang melarang penggunaan nama asing.
Publik Cape Verde sendiri memang dikenal sangat menggemari kultur sepak bola negara-negara berbahasa Portugis, seperti Brasil dan Portugal.
Rekam Jejak Karier di Klub-Klub Semenjana
Keberhasilan Vozinha mencuri perhatian dunia menjadi bukti sahih bahwa panggung Piala Dunia selalu ramah bagi para "pemain kelas bawah" yang memiliki etos kerja tinggi.
Sepanjang karier profesionalnya, Vozinha belum pernah sekalipun mencicipi atmosfer kompetisi di liga-liga elite Eropa.
Berikut adalah rangkuman profil dan rekam jejak karier sepak bola Vozinha:
| Komponen Profil | Detail Informasi |
| Nama Asli | Josimar Jose Evora Dias |
| Tanggal Lahir | 3 Juni 1986 (Usia 40 Tahun) |
| Debut Timnas | Tahun 2012 (Mengantongi 90 Caps) |
| Negara Singgahan | Portugal, Slovakia, Siprus, Moldova, dan Angola. |
| Klub Portugal yang Dibela | Chaves dan Gil Vicente (Klub papan tengah/bawah). |
| Prestasi Laga Terakhir | Man of The Match vs Spanyol (Piala Dunia 2026). |
Total ada 10 klub gurem yang pernah ia bela di sepanjang petualangannya di lapangan hijau.
Kendati demikian, kesetiaannya menjaga gawang Timnas Cape Verde sejak tahun 2012 telah membentuk mentalitasnya menjadi sekokoh batu karang.
Efek Piala Dunia: Instagram Melonjak hingga 5,8 Juta Pengikut
Aksi memukau Vozinha langsung menjadi berkah instan di ruang digital.
Sebelum sepak mula (kick-off) melawan Spanyol dimulai, akun Instagram pribadinya, @vozinha1, tercatat hanya memiliki sekitar 10 ribu pengikut.
Namun, pasca-laga berakhir dan performanya viral secara global, gelombang jutaan netizen baru langsung membanjiri akunnya.
Hingga Selasa (16/6/2026) sore pukul 17.00 WIB, jumlah pengikut akun @vozinha1 telah melesat tajam menembus angka 5,8 juta pengikut.
Seusai pertandingan, ketika salah seorang kru menunjukkan statistik lonjakan pengikut Instagram-nya yang di luar nalar tersebut, sang kiper veteran hanya bisa terbelalak tidak percaya.
"Gila!" seru Vozinha spontan sambil tertawa lepas merayakan malam terbaik di sepanjang karier sepak bolanya.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo