Maarten Paes Tepis 2 Penalti tapi Dicueki Rekan Setim Saat Jadi Penentu Kemenangan, Begini Tanggapan Kiper Timnas Indonesia

Didi Agung Eko Purnomo • Dipublikasikan Rabu, 27 Mei 2026 | 17:34 WIB
Maarten Paesm Kiper Ajax Amsterdam.
Maarten Paesm Kiper Ajax Amsterdam.

SOLOBALAPAN, SEPAK BOLA — Kiper andalan Timnas Indonesia, Maarten Paes, sukses tampil sebagai pahlawan bagi klubnya, Ajax Amsterdam, dalam laga play-off menuju Liga Konferensi Eropa (UEFA Conference League) melawan FC Utrecht.

Pertandingan yang berjalan alot tersebut harus diakhiri lewat drama adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Dalam babak tos-tosan, Paes tampil gemilang dengan menepis dua sepakan penalti dari pemain FC Utrecht, yakni Sebastian Haller dan Souffian El Karouni, yang berujung pada kemenangan 4-3 untuk Ajax.

Baca Juga: 4 Bintang Asing Persib Bandung Termasuk Striker Andalan Dikabarkan Hengkang Usai Ditinggal Bojan Hodak, Siapa Saja?

Kunci Sukses dan Momen Canggung Usai Laga

Seusai pertandingan, kiper berusia 28 tahun itu membeberkan rahasia di balik keberhasilannya membaca arah bola lawan. Ia mengaku selalu melakukan riset mendalam sebelum turun ke lapangan.

"Jika Anda sedikit mengenal saya, Anda tahu bahwa saya mempelajari penendang penalti secara menyeluruh sebelum setiap pertandingan," ungkap Maarten Paes.

Namun, ada sebuah pemandangan ganjil yang terekam kamera tepat setelah Paes menepis tendangan penalti penentu.

 Bukannya dikerumuni dan dirayakan secara meriah oleh rekan-rekan setimnya bak pahlawan kemenangan, Paes justru terlihat 'dicueki' dan dibiarkan sendirian.

Rupanya, para pemain Ajax merasa ragu apakah kemenangan tersebut pantas untuk dirayakan secara berlebihan, mengingat Ajax—klub dengan tradisi juara yang kuat—hanya berhasil mengamankan tiket ke kompetisi kasta ketiga Eropa (Liga Konferensi Eropa).

Pada akhirnya, hanya ada satu pemain yang menghampiri Paes, yakni Lucas Rosa.

Ironisnya, Rosa menghampiri Paes bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan karena kebingungan melihat reaksi pemain lain.

"Hanya Lucas Rosa yang menghampiri saya. Dia sendirian, jadi dia mengira penyelamatan saya dianulir dan penalti harus diulang," beber Paes menceritakan momen kocak tersebut.

Sorotan Media Belanda dan Jawaban atas Kritik

Momen canggung yang dialami Paes ini tak luput dari sorotan tajam media-media Belanda, salah satunya De Telegraaf.

"Biasanya, kiper yang berperan heroik dalam adu penalti akan dikerumuni oleh rekan-rekan setimnya yang sedang merayakan. Tetapi karena para pemain Ajax ragu apakah itu pantas dilakukan setelah mencapai Liga Konferensi, Paes kehilangan momen kegembiraan itu," tulis De Telegraaf dalam laporannya.

Selain membahas insiden tersebut, Paes juga angkat bicara mengenai rentetan kritik dari sejumlah pakar sepak bola Belanda yang kerap menilai dirinya memiliki kelemahan di beberapa aspek, terutama dalam penguasaan bola (ball-playing). Menanggapi hal itu, Paes memberikan jawaban berkelas berdasarkan statistik.

"Jika Anda memasukkan sembilan puluh menit melawan FC Utrecht, maka saya telah mencatatkan clean sheet tujuh kali dalam 13 pertandingan. Itu persentase yang cukup bagus," tegasnya seperti dikutip dari Ajax Show Time.

Meski demikian, kiper andalan skuad Garuda ini tetap bersikap rendah hati dan menyadari bahwa dirinya masih harus terus berkembang.

"Ada hal-hal baik dan area yang perlu ditingkatkan, tetapi selalu ada. Dalam hal penguasaan bola, tentu saja bisa lebih baik," pungkas Paes.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
timnas indonesia Maarten Paes kiper