SOLOBALAPAN, BIAK — Awan hitam sedang menyelimuti masa depan PSBS Biak. Klub asal Papua yang dijuluki Badai Pasifik ini tidak hanya terancam terlempar dari kasta tertinggi Super League, tetapi juga dibayangi kehancuran total hingga terancam terjun bebas ke Liga 3 akibat krisis finansial dan sanksi berat dari FIFA.
Hingga memasuki pekan ke-28 musim 2025/2026, PSBS Biak masih terdampar di dasar klasemen dengan raihan hanya 18 poin.
Jarak sembilan poin dari zona aman menjadi tembok yang sangat tebal untuk ditembus, apalagi kondisi internal klub saat ini sedang berada di titik nadir akibat tunggakan gaji pemain yang berkepanjangan.
Krisis Finansial dan Eksodus Pemain Asing
Situasi pelik ini diperparah dengan hengkangnya sejumlah pilar penting. Pemain tertajam mereka, Ruyery Blanco, bersama beberapa pemain asing lainnya dilaporkan telah pulang kampung karena tidak adanya kepastian hak-hak mereka.
Gelandang George Brown bahkan sempat mengunggah surat terbuka kepada pihak regulator kompetisi dan PSSI guna menyuarakan penderitaan para pemain.
Pelatih Marian Mihail mengakui bahwa moral anak asuhnya sudah sangat menurun. "Kami punya banyak pemain asing dan bahkan pemain lokal yang tidak berasal dari sini.
Mereka kesulitan hidup layak, jadi sangat sulit bekerja dalam kondisi ini," ungkapnya dengan nada lesu pekan lalu. Kondisi ini membuat skuad yang tersisa harus bertarung tanpa motivasi yang layak di sisa kompetisi.
Sanksi Larangan Transfer FIFA Sebanyak Tujuh Kali
Derita PSBS Biak diprediksi tidak akan berakhir meskipun mereka nantinya berkompetisi di kasta kedua.
Berdasarkan data dari laman FIFA Registration Bans, PSBS saat ini masih terlilit sanksi larangan transfer akibat tujuh kali pelanggaran.
Masing-masing pelanggaran tersebut dikenai hukuman tiga periode pendaftaran pemain.
Sanksi ini menjadi "lonceng kematian" bagi manajemen jika ingin membangun ulang tim musim depan.
Tanpa kemampuan mendaftarkan pemain baru, PSBS berpotensi terus mengalami degradasi beruntun hingga ke Liga 3 atau bahkan Liga 4 regional, serupa dengan nasib klub-klub yang gagal membenahi masalah finansial dan administrasi secara fundamental.
Belajar dari Kasus PSIS dan Leicester City
Fenomena klub terjun bebas akibat masalah finansial dan sanksi sudah mulai terlihat di dunia sepak bola.
Musim lalu, PSIS Semarang sempat mengalami guncangan serupa usai terdegradasi, meski akhirnya terselamatkan oleh suntikan dana investor baru.
Di kancah internasional, klub Inggris Leicester City bahkan mengalami degradasi dua musim beruntun hingga ke kasta ketiga akibat pelanggaran finansial yang berujung pengurangan poin.
Kini, tugas berat berada di pundak manajemen PSBS Biak untuk segera melunasi tunggakan dan menyelesaikan sanksi FIFA. Sementara itu, PSBS dijadwalkan akan tetap bertanding melawan Persijap Jepara pada Jumat (24/4/2026).
Jika tidak ada perubahan signifikan, laga-laga sisa musim ini mungkin akan menjadi saksi sejarah runtuhnya sang Badai Pasifik.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo