SOLOBALAPAN.COM – Peluncuran jersey terbaru Timnas Indonesia kolaborasi dengan Kelme langsung memicu polemik panas.
Bukan hanya soal desain yang disebut mirip seragam badminton, namun banderol harga yang dipatok menjadi sasaran empuk kritik tajam dari pengamat sepak bola, Coach Justin.
Melalui kanal pribadinya, pria yang akrab disapa Kochi ini menilai harga jersey versi player issue sebesar Rp1,5 juta sangat tidak rasional jika disandingkan dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini.
Desain Subjektif, Tapi Harga Tak Masuk Akal
Coach Justin awalnya mencoba objektif melihat desain jersey merah-putih tersebut.
Namun, ia akhirnya sepakat dengan suara netizen yang menilai estetika jersey sepak bola kali ini justru melenceng ke cabang olahraga lain.
“Gue googling dong. I have to say netizen benar. Ini lebih mirip ke jersey badminton,” ujarnya.
Namun, fokus utama kegeramannya mengarah ke harga jersey yang dinilai terlalu tinggi.
Menurutnya banderol Rp 1,5 juta untuk jersey versi player issue sangat sulit diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Ia membandingkan dengan jersey timnas kelas dunia seperti Jerman atau Argentina produksi Adidas yang dibanderol Rp2 juta.
Di Eropa, harga tersebut hanya sebagian kecil dari rata-rata gaji bulanan, namun di Indonesia, ceritanya berbeda.
“Gua buka adidas.co.id, gua cek jerseynya Jerman sama Argentina yang player issue, 2 juta,” katanya.
Perbandingan ini menjadi dasar argumennya dalam menilai harga jersey Timnas Indonesia.
Menurut pria yang punya nama asli Justinus Lhaksana ini, harga Rp 2 juta di Eropa atau Amerika masih tergolong wajar.
Hal itu karena rata-rata pendapatan masyarakat di sana jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
“Di negaranya sendiri, di Eropa lah atau Amerika, 2 juta itu kecil. Orang Jerman gajinya average mungkin 2.500 euro. Beli jersey 2 juta itu nothing,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya melihat harga dari perspektif ekonomi masyarakat.
Perbandingan UMR: "Beli Jersey Pakai Setengah Gaji?"
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan Indonesia yang memiliki standar upah minimum lebih rendah.
Perbandingan ini kemudian menjadi sorotan utama dalam kritiknya.
Coach Justin menyinggung UMR Jakarta yang berada di kisaran Rp 6 juta.
Dengan harga jersey Rp 1,5 juta, artinya pembelian tersebut bisa mencapai sekitar 25 persen dari penghasilan bulanan.
“Gua cek UMR di Jakarta hampir 6 juta, which sekitar 25 persenan dengan harga 1,5 juta yang player issue,” ungkapnya. Angka tersebut dinilai sudah cukup membebani bagi sebagian masyarakat.
Situasi bahkan lebih berat jika melihat daerah-daerah lain di Indonesia.
Ia mencontohkan kota-kota dengan UMR lebih rendah yang membuat harga jersey terasa semakin tidak masuk akal.
Di Solo, misalnya, UMR berada di kisaran Rp 2,5 juta sehingga harga jersey bisa mencapai sekitar 60 persen dari gaji bulanan.
Sementara di Yogyakarta dengan UMR sekitar Rp 2,6 juta, nilainya berkisar 50 hingga 55 persen.
“Di Solo, UMR kisaran 2,5 juta, harga jersey bisa 60 persen dari gaji bulanan. Tidak rasional jika seseorang harus mengeluarkan setengah gaji hanya untuk satu jersey,” tegasnya.
Perbandingan ini membuat Coach Justin semakin yakin harga tersebut sulit dijangkau oleh mayoritas masyarakat.
Ia menilai tidak rasional jika seseorang harus mengeluarkan setengah gaji hanya untuk satu jersey.
Soroti Biaya Produksi dan Branding
Coach Justin juga mempertanyakan posisi Kelme yang menurutnya belum selevel dengan raksasa apparel seperti Nike, Adidas, atau Puma.
Ia juga menyinggung soal biaya tenaga kerja (labor cost) yang seharusnya bisa ditekan.
“Kelme ini 80 persen milik China. Artinya pabriknya di China. Harusnya labor cost itu murah banget. Harga 1,5 juta itu nggak bisa di-justify sama sekali, baik dari sisi produksi maupun image internasional,” lanjutnya.
Harapan untuk Rakyat Indonesia
Kritik ini disampaikan bukan tanpa alasan. Coach Justin berharap jersey Timnas bersifat inklusif agar sebanyak mungkin rakyat Indonesia bisa memiliki produk orisinal tanpa harus menguras tabungan secara berlebihan. Ia menyarankan harga yang ideal adalah di bawah Rp 1 juta.
Hingga saat ini, perdebatan soal harga dan desain jersey Kelme masih terus bergulir di media sosial, tepat sebelum debut resminya pada ajang FIFA Series 2026 akhir Maret mendatang. (dam)
Editor : Damianus Bram