SOLOBALAPAN.COM – Awan mendung menyelimuti Laskar Sambernyawa. Persis Solo resmi dijatuhi sanksi berat oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI menyusul insiden panas saat bertandang ke markas Persijap Jepara dalam lanjutan Liga Super 2025/2026.
Keputusan yang diumumkan pada Jumat (13/3/2026) ini memaksa Persis tampil "sunyi" di Stadion Manahan hingga akhir musim.
Sanksi paling memukul adalah larangan menggelar lima pertandingan kandang tanpa penonton.
Karena laga kandang musim ini hanya tersisa empat pertandingan, maka hukuman tersebut otomatis akan "menyeberang" dan berlaku pada laga perdana musim depan.
Rincian Pelanggaran: Dari Kursi Patah hingga Lemparan Petasan
Komdis PSSI mencatat sejumlah pelanggaran serius yang terjadi di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, yang menjadi dasar jatuhnya hukuman "sadis" ini.
Beberapa poin utamanya meliputi:
1. Perusakan Fasilitas: Laporan resmi menyebutkan sejumlah kursi tribun mengalami kerusakan dan pagar pembatas sempat digoyang oleh oknum suporter hingga situasi tidak kondusif.
2. Ketegangan Antar-Suporter: Aksi saling ejek yang memicu pelemparan benda di area tribun stadion.
3. Aksi Petasan: Ditemukan bukti kuat adanya pelemparan petasan ke area lapangan yang membahayakan perangkat pertandingan.
Beban Finansial Membengkak: Denda dan Ganti Rugi Materiil
Selain hukuman tanpa penonton, dompet manajemen Persis Solo dipastikan terkuras.
Klub tidak hanya diwajibkan membayar denda finansial kepada PSSI terkait kehadiran suporter tim tamu yang melanggar regulasi, tetapi juga harus membiayai perbaikan fasilitas.
Persis diwajibkan mengganti seluruh kerugian materiil akibat kerusakan di stadion milik Persijap Jepara.
Kombinasi antara denda kehadiran suporter tamu, pelemparan benda, dan kerusakan fasilitas membuat total hukuman finansial kali ini menjadi salah satu yang terberat di musim ini.
Pelajaran Berharga bagi Seluruh Pihak
Hukuman ini menjadi peringatan keras bagi manajemen klub dan suporter untuk lebih memperketat pengawasan.
Tanpa kehadiran penonton di empat laga sisa, Persis Solo harus berjuang ekstra keras di lapangan tanpa dukungan langsung "pemain ke-12" demi menjaga posisi mereka di klasemen.
Pihak manajemen diharapkan segera melakukan evaluasi mendalam agar insiden serupa tidak terulang, mengingat dampak sosial dan finansial yang sangat merugikan eksistensi klub di kancah nasional. (dam)
Editor : Damianus Bram