SOLOBALAPAN.COM – Sepak bola Indonesia kembali menyuguhkan cerita mengharukan di balik panasnya tensi kompetisi Super League 2025/2026.
Meski dikenal sebagai rival bebuyutan, kelompok suporter Persebaya Surabaya, Bonek, kedapatan memberikan dukungan moral kepada Arema FC yang baru saja menelan kekalahan pahit.
Laga pekan ke-25 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC vs Arema FC di Stadion Sumpah Pemuda, Selasa malam (10/3/2026), berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan tuan rumah.
Namun, rentetan keputusan wasit yang dianggap merugikan Singo Edan memicu simpati dari berbagai arah.
Solidaritas "Hijau dan Biru" di Media Sosial
Pasca-pertandingan, kolom komentar akun Instagram resmi Arema FC justru diramaikan oleh dukungan dari akun-akun beridentitas Bonek.
Hal ini tergolong langka mengingat sejarah panjang rivalitas kedua tim tersebut.
“Aku Bonek, gawe Arema NT lawan mu P* soale,” tulis salah satu suporter di kolom komentar.
“duh sek sabar yo sam, padahal aku bonek yo ndukung tim'mu ben gak kesalip klasemen pdhl aku ndelok 1-0 win arema, malah dalberto kartu abang comeback lah bhayangkara. wes gak popo lah sam, semangat terus. bonekXarema,” tulis seorang suporter.
“Keep strong dulurku Aremania,” tulis seorang suporter dengan emoticon hati hijau dan biru. Komentar lain juga menyampaikan hal serupa.
Banyak Bonek yang merasa Arema FC "dikerjai" dalam laga tersebut.
Simbol hati hijau dan biru pun berseliweran, menunjukkan bahwa di atas rivalitas, ada sportivitas yang lebih tinggi.
Kronologi Drama 2 Kartu Merah dan Penalti
Kekalahan Arema FC tersebut memang tergolong menyakitkan. Sempat unggul 1-0 lewat gol Joel Vinicius di menit-menit akhir babak pertama, situasi berbalik drastis akibat badai kartu merah.
Menjelang turun minum, tepatnya menit 45, gelandang Gildson Pablo diusir wasit setelah pelanggaran keras. Arema bertahan dengan 10 pemain.
Meski demikian, mereka masih mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga babak pertama berakhir.
Drama kembali terjadi pada babak kedua. Wasit kembali mengeluarkan kartu merah untuk pemain Arema FC pada menit ke-70.
Kali ini penyerang Dalberto menyusul keluar lapangan karena mendapatkan kartu merah. Alhasi Arema harus berjuang hanya dengan 9 pemain.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan dengan baik oleh Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Tim tuan rumah akhirnya mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-76 lewat sundulan Privat Mbarga.
Puncak drama terjadi menjelang akhir pertandingan. Wasit memberikan hadiah penalti kepada Bhayangkara pada menit ke-88.
Penalti kontroversial ini sukses dieksekusi Moussa Sidibe, sehingga membuat skor berbalik 2-1.
Dampak di Klasemen: Ancaman Bagi Persebaya
Dukungan Bonek disinyalir juga memiliki alasan taktis. Kemenangan Bhayangkara FC membuat tim asuhan Paul Munster tersebut naik ke posisi ke-6 dengan 41 poin, hanya selisih 2 poin dari Persebaya Surabaya yang berada di posisi ke-7.
Jika Arema FC mampu menahan imbang atau mengalahkan Bhayangkara, posisi Persebaya di klasemen tentu akan lebih aman dari kejaran tim "The Guardian" tersebut.
Simpati Lintas Suporter
Tak hanya Bonek, dukungan juga mengalir dari Bobotoh (Persib) hingga The Jakmania (Persija).
“Kalian tetap pemenangnya Sam,salam dari biru barat,” tulis salah satu suporter. Komentar tersebut merujuk pada dukungan dari kelompok suporter Persib Bandung.
“Arema vs wasit, tetep semangat arema,” tulis salah satu suporter dengan menyematkan emoticon hati berwarna jingga dan biru.
Narasi "Arema vs Wasit" menjadi trending di kalangan netizen yang menilai kepemimpinan pengadil lapangan merusak estetika pertandingan.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa suporter sepak bola Indonesia semakin dewasa dalam menyikapi kontroversi, sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas bisa muncul dari arah yang paling tidak terduga. (dam)
Editor : Damianus Bram