SOLOBALAPAN.COM – Angka 100 bukan sekadar statistik bagi Ernando Ari Sutaryadi, kiper Persebaya Surabaya.
Penjaga gawang yang akrab disapa Nando ini resmi mencatatkan 100 penampilan bersama Persebaya Surabaya, sebuah pencapaian fenomenal yang membuktikan bahwa talenta lokal mampu menjadi pilar utama jika diberi kepercayaan penuh.
Perjalanan dari Elite Pro Academy (EPA) hingga menjadi pilihan utama di tim senior menjadi bukti nyata bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil.
Momen Ikonik Kontra Arema FC
Dalam perjalanan menuju 100 laga, satu momen yang paling melekat di hati Nando dan Bonek adalah aksinya pada pekan ke-33 musim 2022/2023.
Saat itu, Persebaya yang unggul 1-0 hampir kehilangan poin usai Arema FC mendapat penalti di menit-menit akhir.
Dengan ketenangan luar biasa, Ernando berhasil menepis tendangan penalti tersebut dan mengunci kemenangan emosional di Stadion PTIK.
“Kalau bicara momen yang paling berkesan, tentu saat saya menepis penalti Arema di Jakarta. Itu momen yang sangat krusial dan jadi kenangan yang sangat berarti buat saya pribadi,” ungkap Ernando, Kamis (5/3/2026).
Kunci Rahasia: Konsistensi dan Kerja Keras
Menjadi kiper utama di klub sebesar Persebaya dengan tekanan suporter yang luar biasa tentu tidak mudah.
Bagi Nando, menjaga performa di dalam dan luar lapangan adalah harga mati untuk membayar kepercayaan pelatih.
“Sebagai penjaga gawang, konsistensi adalah kunci. Intinya adalah menjawab kepercayaan pelatih dengan kerja keras, baik di latihan maupun di pertandingan,” tambahnya.
Ambisi Besar: Membawa Persebaya Juara
Setelah melewati angka 100, Ernando menegaskan bahwa dirinya belum puas.
Kiper andalan Timnas Indonesia ini memiliki mimpi besar yang ingin ia wujudkan bersama klub yang membesarkannya tersebut.
“Target saya tentu ingin membawa Persebaya menjadi juara. Secara pribadi, ambisi saya adalah selalu tampil maksimal dan memberikan kontribusi terbaik demi gelar juara,” tegas Nando.
Kisah 100 laga Ernando Ari adalah pesan kuat bagi para pemain muda di akademi bahwa dengan disiplin, loyalitas, dan mental baja, anak daerah bisa berdiri tegak sebagai pahlawan di panggung utama sepak bola Indonesia. (dam)
Editor : Damianus Bram