Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Pemain Persebaya Diserang Komentar Rasis Pasca Laga Kontra Persib, Netizen Desak Tindakan Tegas dari PSSI

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 4 Maret 2026 | 16:31 WIB

Duel Persebaya vs Persib di Stadion Gelora Bung Tomo siap menyedot perhatian.
Duel Persebaya vs Persib di Stadion Gelora Bung Tomo siap menyedot perhatian.

SOLOBALAPAN.COM – Kabar memprihatinkan kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia.

Di tengah ketatnya persaingan Liga 1, tindakan rasisme yang menjijikkan kembali terjadi dan menyasar pemain muda Persebaya Surabaya, Mikael Tata.

Mikael Tata menjadi korban serangan verbal di media sosial tepat setelah dirinya membantu Bajul Ijo menahan imbang Persib Bandung pada laga pekan ke-24 Super League 2025-2026, Senin (2/3/2026).

Diserang Melalui Media Sosial Pribadi

Dalam laga yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) tersebut, Mikael Tata masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-54 untuk menggantikan Riyan Ardiansyah.

Meski Persebaya sukses memaksakan hasil imbang 2-2 lewat gol Bruno Moreira dan Francisco Rivera, kebahagiaan itu justru berujung pahit bagi Tata.

Baca Juga: Henhen Herdiana Buka Suara usai Persik Kediri Takluk 1-2 dari Persis Solo, Penguasaan Bola Saja Tak Cukup

Tindakan tidak terpuji ini diungkapkan langsung oleh akun Instagram @onlinepersebaya.

Akun tersebut memberikan dukungan moril kepada pemain bernomor punggung 15 itu setelah kolom komentar di Instagram pribadinya dibanjiri kata-kata rasis.

"Pemain Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata mendapatkan berbagai komentar rasis di akun Instagram-nya. Tetap kuat Tata," tulis akun tersebut dalam unggahannya.

Rasisme yang Kian Merajalela di Liga Indonesia

Kasus yang menimpa Mikael Tata seolah menjadi pengingat bahwa "penyakit" rasisme masih sangat sulit diberantas dari ekosistem sepak bola tanah air.

Sebelum Tata, sederet pemain lain juga mengalami nasib serupa di awal tahun 2026 ini:

Fenomena ini tentu menjadi alarm bagi PSSI dan operator liga.

Meski rivalitas di lapangan hijau sangat tinggi, tindakan yang menyerang identitas fisik atau suku bangsa tidak memiliki tempat di sepak bola modern.

Dukungan pun terus mengalir bagi Mikael Tata agar tetap tegar menghadapi situasi ini dan tetap fokus membela kebanggaan warga Surabaya di sisa kompetisi musim ini. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#persib #netizen #pssi #persebaya #rasis