Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Arya Sinulingga Tanggapi Isu Pemain Diaspora Main di Liga Lokal demi Piala AFF 2026: Kami Tak Bisa Melarang, Itu Hak Asasi

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 27 Januari 2026 | 17:30 WIB

Arya Sinulingga, ANggota Exco PSSI
Arya Sinulingga, ANggota Exco PSSI

SOLOBALAPAN.COM, JAKARTA – Kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia, Super League musim 2025-2026, menyajikan fenomena menarik dengan membanjirnya pemain diaspora atau pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memutuskan untuk berkarier di tanah leluhur.

Tren ini memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola tanah air.

Sebagian khawatir keputusan ini merupakan kemunduran karier (downgrade) karena meninggalkan kompetisi Eropa, namun PSSI melalui anggota Komite Eksekutif (Exco), Arya Sinulingga, memiliki pandangan berbeda.

Arya menegaskan bahwa PSSI tidak memiliki wewenang untuk menghalangi keputusan profesional para pemain tersebut.

Peta Persebaran 7 Pemain Diaspora di Super League

Hingga paruh musim ini, tercatat setidaknya ada tujuh pemain berlabel Timnas Indonesia (diaspora) yang tersebar di empat klub elit Super League.

Baca Juga: Invasi Bintang Diaspora! Ini Daftar 7 Pemain Keturunan Timnas yang Resmi Merumput di Super League: Shayne Pattynama ke Persija, Dion Markx di Persib!

Persib Bandung menjadi tim yang paling agresif dalam mengamankan tanda tangan para punggawa Garuda tersebut.

Berikut adalah daftar persebaran pemain diaspora di klub-klub Indonesia saat ini:

Selain nama-nama di atas, rumor transfer juga menyebutkan potensi kedatangan Ivar Jenner dan Ragnar Oratmangoen yang dikabarkan akan segera menyusul berkarier di Indonesia.

Hak Asasi dan Daya Tarik Liga

Arya Sinulingga menjelaskan bahwa keputusan para pemain untuk merumput di Indonesia adalah hak asasi masing-masing individu yang tidak bisa diintervensi oleh federasi.

Menurutnya, PSSI tidak dalam posisi menggaji pemain di level klub, sehingga tidak bisa menyetir ke mana mereka harus berlabuh.

"Pertama ini pilihan mereka. Kami tidak bisa tahan mereka. Kami tidak menggaji mereka. Mungkin beda kalau kami gaji mereka, pasti bisa diarahkan. Tapi ini soal pilihan mereka dan hak asasi mereka juga," ujar Arya kepada awak media.

Arya justru melihat fenomena ini dari sudut pandang positif.

Kehadiran para pemain Grade A ini dianggap sebagai indikasi bahwa kualitas dan daya tarik kompetisi Super League semakin meningkat di mata internasional.

Baca Juga: Bursa Transfer Memanas! Persija Jakarta Bidik 5 Bintang Baru: Dari Ivar Jenner Hingga Kiper Brasil, Siapa yang Bakal Merapat ke Ibu Kota?

Bantahan Isu Penurunan Karier dan Strategi Piala AFF

Terkait kekhawatiran bahwa bermain di liga lokal akan menurunkan kualitas Timnas Indonesia, Arya menepisnya.

Ia mencontohkan kedatangan bintang dunia non-diaspora, seperti Layvin Kurzawa (eks PSG) ke Persib Bandung, sebagai bukti bahwa iklim kompetisi sedang berbenah menuju level yang lebih tinggi.

"Kalau kompetisi makin tinggi sebenarnya pengaruhnya (penurunan kualitas timnas) jadi kecil. Jadi kami harapkan harus naik kualitas kompetisi liganya," tegas Arya.

Arya juga meluruskan spekulasi yang menyebut kepindahan para pemain ini bertujuan agar mereka mudah dipanggil untuk Piala AFF atau ASEAN Championship 2026 pada Juli-Agustus mendatang.

Ia menegaskan bahwa bermain di liga lokal tidak serta-merta menjamin ketersediaan pemain untuk timnas, karena keputusan melepas pemain tetap berada di tangan klub masing-masing. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#hak asasi #piala aff 2026 #pemain diaspora #arya sinulingga