SOLOBALAPAN.COM – Bergabungnya Shayne Pattynama ke Persija Jakarta sempat memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola nasional.
Di satu sisi, kehadiran pemain berusia 27 tahun ini disambut antusias oleh The Jakmania, namun di sisi lain, keputusannya bermain di tanah air dianggap terlalu dini bagi pemain yang masih berada di usia emas.
Menanggapi hal tersebut, Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan pandangan yang sangat objektif.
Baginya, baik bermain di Eropa maupun di Super League, keduanya memiliki nilai strategis tersendiri bagi kekuatan skuad Garuda.
Menurut pelatih asal Inggris tersebut, bermain di Super League memberikan keuntungan taktis yang unik bagi pemain diaspora, terutama dalam hal adaptasi fisik terhadap iklim ekstrem Indonesia.
Pro-Kontra Shayne Pattynama: Terlalu Dini ke Indonesia?
Shayne Pattynama resmi diikat Persija Jakarta selama 2,5 musim setelah meninggalkan klub raksasa Thailand, Buriram United.
Langkah ini mengikuti jejak Jordi Amat, Thom Haye, hingga Rafael Struick yang lebih dulu merumput di kasta tertinggi Indonesia.
Meski disambut meriah oleh The Jakmania, sebagian suporter menyayangkan keputusan Shayne yang dianggap masih mampu bersaing di level tertinggi Eropa.
Herdman: Adaptasi Cuaca adalah Kunci "Kekuatan" Garuda
Menanggapi fenomena ini, John Herdman memilih bersikap objektif.
Ia tidak menampik bahwa standar Eropa penting untuk kualitas teknis, namun ia menggarisbawahi bahwa kondisi Indonesia sangat "unik" bagi pemain yang lahir dan besar di luar negeri.
"Kondisi di sini unik; panasnya, kelembapannya. Bagi pemain Eropa, berlatih di sini secara konsisten sangat penting untuk membangun tingkat toleransi fisik minggu demi minggu. Ini memberi kami kedalaman skuad yang sangat dibutuhkan," ujar Herdman, dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (24/1/2026).
Menyeimbangkan Standar Eropa dan Mentalitas Lokal
Herdman menekankan bahwa ia tetap membutuhkan pemain yang berkarier di Eropa untuk membawa standar standar permainan yang berbeda.
Namun, pemain diaspora yang bermain di dalam negeri memiliki keunggulan karena sudah terbiasa dengan ritme dan atmosfer sepak bola Asia Tenggara.
Bagi Herdman, lokasi bermain bukanlah masalah utama selama sang pemain tampil konsisten dan terus berkembang.
Dengan adanya pemain diaspora di klub-klub lokal seperti Persija, Persib, hingga Dewa United, Herdman justru melihat peluang untuk memantau kondisi fisik dan performa para penggawa Garuda dengan lebih intensif. (dam)
Editor : Damianus Bram