SOLOBALAPAN.COM, BANDUNG – Jagat sepak bola nasional kembali diguncang rumor transfer sensasional jelang putaran kedua BRI Super League 2025–2026.
Klub raksasa Jawa Barat, Persib Bandung, dikabarkan tengah memantau situasi legenda sepak bola Spanyol dan mantan kapten Real Madrid, Sergio Ramos.
Isu liar ini mencuat seiring dengan ketidakpastian masa depan bek andalan Persib, Federico Barba.
Meski tampil kokoh, bek asal Italia tersebut santer dikabarkan ingin pulang kampung karena keluarganya kesulitan beradaptasi di Indonesia.
Jika Barba benar-benar hengkang, satu slot pemain asing—ditambah slot kosong peninggalan William Marsilio—harus segera diisi.
Nama Sergio Ramos pun menyeruak sebagai kandidat ambisius, mengingat statusnya yang kini tanpa klub usai kontraknya bersama Monterrey berakhir di penghujung 2025.
Persija Bergerak Cepat, Persib Dalam Tekanan
Di saat Persib masih berkutat dengan rumor, sang rival abadi, Persija Jakarta, justru sudah melakukan langkah konkret.
Macan Kemayoran resmi mengikat bek kanan berlabel Timnas, Fajar Fathurrahman, dari Borneo FC dengan durasi kontrak 3,5 musim.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, mengakui bahwa tekanan sebagai juara paruh musim sangat besar, terlebih dengan pergerakan agresif para pesaing.
"Di Persib, tekanan adalah hal normal. Persija dan Malut United jadi rival berbahaya karena investasi besar mereka," ujar Hodak.
Berikut adalah analisis singkat mengenai kemungkinan transfer Sergio Ramos:
Analisis Rumor Transfer: Sergio Ramos ke Persib
-
Peluang: Terbuka karena status Free Agent (Bebas Transfer).
-
Hambatan Utama: Gaji fantastis dan ambisi Ramos yang dikabarkan masih ingin bermain di Eropa demi menjaga asa tampil di Piala Dunia 2026.
-
Faktor Pemicu: Bergantung sepenuhnya pada nasib Federico Barba (Bertahan atau Hengkang).
-
Kebutuhan Tim: Mengisi kekosongan pemimpin lini belakang jika Barba pergi.
Isu Non-Teknis: Ancaman Terhadap Tom Haye
Di luar lapangan, atmosfer juga memanas akibat ancaman pembunuhan terhadap gelandang Persib, Tom Haye, di media sosial.
Ketua Umum The Jakmania, Dicky Sumarno, mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai masalah literasi digital bangsa yang lemah, bukan sekadar rivalitas sepak bola. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo