SOLOBALAPAN.COM, LONDON – Gelaran Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung bulan kini berada di ujung tanduk.
Ketidakpastian menyelimuti status Amerika Serikat (AS) sebagai tuan rumah utama menyusul serangkaian kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump yang dinilai melanggar hukum internasional dan semangat olahraga.
Mantan presenter Sky Sports, Jeff Stelling, secara vokal mendesak FIFA untuk segera mencabut status tuan rumah AS dan memindahkannya ke Inggris.
Desakan ini muncul setelah situasi geopolitik memanas akibat tindakan agresif pemerintahan Trump.
"Saya sepenuhnya setuju. Sejujurnya, FIFA harus mempertimbangkan alternatif seperti Inggris. AS harus dicabut keanggotaannya sebagai sanksi," tegas Stelling.
Kebijakan Trump yang Memicu Kemarahan Dunia
Situasi semakin pelik setelah pada 14 Januari 2026, pemerintahan Trump menambah daftar merah visa imigran.
Sebanyak 75 negara kini statusnya ditangguhkan tanpa batas waktu untuk memproses visa, yang akan berlaku efektif mulai 21 Januari.
Kebijakan ini berdampak langsung pada negara peserta Piala Dunia seperti Haiti dan Iran.
Selain isu imigrasi, agresi militer AS juga menjadi sorotan tajam. Berikut adalah poin kebijakan Trump yang memicu desakan pemindahan tuan rumah:
Daftar Kontroversi Jelang Piala Dunia 2026
-
Pembekuan Visa: Melarang/membatasi masuk warga dari 75 negara, menyulitkan pemain dan suporter (termasuk tim lolos seperti Iran dan Haiti).
-
Agresi Militer: Melakukan serangan ke Venezuela dan Nigeria dalam beberapa minggu terakhir.
-
Target Politik: Rencana menargetkan Greenland, Meksiko, Kolombia, dan Iran secara politik maupun militer.
Desakan Parlemen Inggris
Di Inggris, sebanyak 23 politisi lintas partai (Partai Buruh, Liberal Demokrat, Hijau, dan Plaid Cymru) telah menandatangani mosi yang menyerukan pengusiran AS dari kompetisi internasional.
Mereka menilai ajang sekelas Piala Dunia tidak boleh digunakan untuk melegitimasi pelanggaran hukum internasional oleh negara adidaya.
Jika FIFA mengabulkan desakan ini, Inggris dinilai sebagai kandidat terkuat mengingat infrastruktur yang memadai, meski terakhir kali menjadi tuan rumah pada tahun 1966. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo