SOLOBALAPAN.COM – Kompetisi kasta terendah sepak bola Indonesia, Liga 4, musim ini benar-benar menyita perhatian publik dengan label "Agak Laen".
Bagaimana tidak? Di satu sisi kita disuguhi aksi brutal yang mengancam nyawa, namun di sisi lain muncul gairah baru dari klub-klub berbasis pendidikan tinggi dan penerapan teknologi sport science.
Wasit yang "Terlalu Baik" dan Aksi Mortal Kombat
Sorotan tajam tertuju pada wasit Ega Bagus saat memimpin laga antara KAFI Jogja melawan UAD FC.
Dalam laga tersebut, Dwi Pilihanto Nugroho (KAFI Jogja) melakukan pelanggaran horor dengan kaki menerjang kepala Amirul Muttaqin (UAD FC).
Anehnya, wasit hanya memberikan kartu kuning—sebuah keputusan yang mengingatkan publik pada insiden Nigel de Jong di Final Piala Dunia 2010.
Kejadian ini hanyalah satu dari sederet kejanggalan di Liga 4. Mulai dari tackle horor, ricuh ruang ganti, hingga pemain yang menolak meninggalkan lapangan meski sudah dikartu merah.
Tak heran jika netizen berkomentar: "Ini pemain bola atau karakter Mortal Kombat?"
Akhir Tragis Karier di Usia Muda
Dampak dari minimnya sportivitas ini sangat fatal. Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain yang baru berusia 20 tahun, harus menerima kenyataan pahit.
Ia dilarang beraktivitas di sepak bola seumur hidup oleh Komdis PSSI Jatim.
Hukuman ini dijatuhkan usai dirinya menerjang dada Firman Nugraha (Perseta 1970). Di usia yang seharusnya menjadi masa keemasan, karier Hilmi justru tamat secara prematur.
Ketua Komdis PSSI Jatim, Samiadji Makin Rahmat, menilai hal ini terjadi karena minimnya pemahaman soal Law of The Game (LOG).
"Attitude, kemampuan berpikir, intelektual, hingga fisik seringkali diabaikan saat seleksi cepat. Padahal hal-hal ini berpengaruh besar pada tindakan pemain di lapangan," tegas Makin.
Persiapan "Kilat" dan Lapangan Mirip Sawah
Kualitas kompetisi juga dipertanyakan akibat persiapan tim yang sangat mepet. Persegres Gresik, misalnya, mengakui hanya melakukan persiapan selama satu minggu sebelum terjun ke kompetisi.
Faktor finansial juga menghantui, di mana ada klub yang hanya mampu membayar pemain dengan sistem harian, ditambah kondisi infrastruktur lapangan yang lebih mirip sawah daripada stadion sepak bola profesional.
Cahaya di Ujung Lorong: Peran Kampus dan Sport Science
Namun, Liga 4 tidak sepenuhnya gelap. Sayup-sayup cahaya muncul dari partisipasi klub-klub kampus seperti PS HW UMY, UAD FC, hingga UNESA FC.
Mereka membawa misi pembinaan bagi mahasiswa agar bisa berprestasi secara intelektual maupun fisik.
Yang lebih membanggakan, Malang United mulai memperkenalkan sport science melalui penggunaan GPS Tracker Vest.
Alat ini digunakan untuk mencatat data statistik pemain secara akurat, baik saat latihan maupun pertandingan.
"Kami ingin memberikan edukasi soal sport science sejak dini. Biar nanti ketika direkrut klub profesional, mereka sudah terbiasa bermain dengan data," ungkap Manajer Malang United, Virdianita.
Liga 4 sejatinya adalah kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda. Meskipun masih banyak kekurangan dan aksi "agak laen", geliat pembinaan dari kampus dan sentuhan teknologi memberikan harapan bahwa sepak bola amatir Indonesia bisa bergerak ke arah yang lebih profesional. (dam)
Editor : Damianus Bram