SOLOBALAPAN.COM – Penunjukan John Herdman sebagai nakhoda baru Timnas Indonesia menggantikan Patrick Kluivert terus menjadi buah bibir.
Namun, di balik reputasi menterengnya sebagai mantan pelatih Kanada, terungkap sebuah kisah tragis dari masa lalunya yang jarang diketahui publik.
Media Belanda, Voetbal Nieuws, baru-baru ini membongkar latar belakang kelam Herdman saat tumbuh besar di Consett, Inggris Utara.
Ia dilaporkan lahir dari keluarga yang penuh masalah dan pernah menjadi korban kekerasan fisik yang nyaris merenggut nyawanya.
Tumbuh di Lingkungan Keras dan Masalah Keluarga
Herdman remaja harus menghadapi realita hidup yang pahit sebelum akhirnya sukses di dunia sepak bola.
Ayah Herdman dikabarkan mengidap gangguan bipolar, sementara ibunya berjuang melawan kecanduan alkohol.
Pada usia 16 tahun, saat tinggal di perumahan sosial, Herdman menjadi korban pemukulan yang sangat parah di sekolahnya.
Luka yang dideritanya saat itu dilaporkan sangat kritis hingga nyawanya terancam.
Alih-alih terjerumus dalam lingkaran setan, Herdman menjadikan tinju dan sepak bola sebagai tempat pelarian sekaligus penguatan karakter.
Psikologi Olahraga: Rahasia Kedekatan dengan Pemain
Pengalaman hidup yang traumatis justru memicu ketertarikan Herdman pada bidang psikologi olahraga sejak dini. Hal inilah yang membentuk karakteristiknya sebagai pelatih saat ini.
- Empati yang Kuat: Ia dikenal sangat dekat dan mampu memahami kondisi mental para pemainnya.
- Spesialis Tim "Underdog": Herdman memiliki semangat juang untuk membawa tim yang tidak diunggulkan menjadi kekuatan yang ditakuti.
- Kepemimpinan dengan Keberanian: Karakternya yang tangguh diharapkan mampu menularkan mentalitas "pantang menyerah" ke dalam skuad Garuda yang tengah berjuang di kancah internasional.
Harapan Baru untuk Timnas Indonesia
Penunjukan John Herdman pada 3 Januari 2026 lalu sebagai Pelatih Timnas Indonesia membawa angin segar bagi PSSI.
Dengan latar belakang yang membentuknya menjadi sosok yang disiplin dan cerdas secara emosional, publik berharap Herdman mampu membangkitkan performa Timnas Indonesia yang sempat mengalami kekosongan pelatih selama beberapa bulan. (dam)
Editor : Damianus Bram