SOLOBALAPAN.COM, JAKARTA – Pecinta sepak bola Tanah Air mendapatkan kado istimewa jelang perhelatan akbar Piala Dunia 2026.
Turnamen yang akan digelar di tiga negara yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 ini dipastikan bisa dinikmati secara gratis oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Kepastian ini didapat setelah Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) resmi mengantongi hak siar penuh untuk wilayah nasional usai merampungkan negosiasi dengan FIFA.
Tayang Full 104 Pertandingan
Manajemen TVRI memastikan akan menayangkan seluruh rangkaian pertandingan tanpa terkecuali.
Total ada 104 laga, mulai dari babak penyisihan grup hingga partai final selama 39 hari, yang akan disiarkan secara free to air.
Artinya, masyarakat tidak perlu membayar biaya berlangganan dan cukup menggunakan antena televisi biasa untuk menyaksikan siaran di kanal TVRI Nasional dan TVRI Sport.
Direktur Utama LPP TVRI, Iman Brotoseno, menyebut langkah ini sebagai mandat pelayanan publik untuk menghadirkan tontonan berkualitas yang inklusif hingga ke daerah terpencil.
Bocoran Harga yang Fantastis
Lantas, berapa harga yang harus ditebus TVRI untuk lisensi bergengsi ini?
Meski nilai kontrak resminya tidak diumumkan secara blak-blakan oleh pemerintah, sebuah klaim mengejutkan datang dari presenter senior Helmy Yahya.
Dalam sebuah tayangan podcast di kanal YouTube HySport, Helmy menyebut angka harga hak siar Piala Dunia 2026 berada di kisaran Rp 16 miliar.
Angka ini terbilang sangat murah dan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tren harga pada edisi-edisi sebelumnya yang biasanya mencapai jutaan dolar AS.
Sudah Bayar Uang Muka
Sementara itu, Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, mengonfirmasi bahwa kontrak kerja sama penyiaran tersebut telah ditandatangani.
Dalam keterangannya, Saleh mengungkapkan bahwa TVRI telah menyetorkan uang muka atau down payment sebesar Rp 1,5 miliar sebagai tanda jadi kesepakatan tersebut.
DPR menilai keberhasilan ini sebagai prestasi tersendiri, mengingat sebelumnya banyak pihak yang meragukan kemampuan lembaga penyiaran publik untuk kembali memegang hak siar ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo