SOLOBALAPAN.COM - Dunia sepak bola sering kali menjanjikan ketenaran dan kekayaan instan. Namun, jalan berbeda dipilih oleh Gabriel Han Willhoft-King.
Pemain muda berbakat yang pernah digadang-gadang akan memperkuat Timnas Indonesia U-17 ini membuat keputusan mengejutkan: pensiun di usia 19 tahun.
Bukan karena tak laku, Gabriel justru mengambil keputusan ini setelah mencicipi akademi terbaik dunia di Tottenham Hotspur dan Manchester City.
Alasan utamanya? Ia merasa "kurang tertantang" secara intelektual dan memilih mengejar gelar sarjana hukum di universitas paling bergengsi, Oxford University.
Profil Gabriel Han: Darah Jakarta di Liga Inggris
Lahir di London pada 24 Januari 2006, Gabriel memiliki koneksi kuat dengan Indonesia. Ayahnya diketahui besar di Jakarta, sementara ibunya berdarah Tionghoa-Amerika Serikat.
Namanya sempat melambung jelang Piala Dunia U-17 2023 lalu.
Ia menjadi salah satu pemain diaspora yang paling diidamkan publik sepak bola Tanah Air karena rekam jejaknya yang mentereng.
Baca Juga: PSSI Masih Bungkam, Media Asing Justru Bocorkan Tiga dari Lima Kandidat Pelatih Timnas Indonesia
Ia adalah rekan seangkatan bintang muda Arsenal, Ethan Nwaneri, dan pernah berlatih di bawah asuhan pelatih kelas dunia seperti Antonio Conte dan Pep Guardiola.
Dihantui Cedera dan 'Godaan' Manchester City
Perjalanan karier Gabriel tidak mulus. Pada tahun 2022, cedera parah menghantamnya saat masih berseragam Spurs. Kondisi ini membuatnya mulai memikirkan masa depan di luar lapangan hijau.
Sempat menolak perpanjangan kontrak Spurs demi kuliah di Amerika Serikat (UCLA), Gabriel tiba-tiba mendapat tawaran yang sulit ditolak: kontrak satu tahun dari Manchester City.
"Saat itu, rencana saya masih menjadi pemain pro, dan saya merasa akan selalu menyesal jika tidak bergabung dengan Man City," ujar Gabriel kepada The Guardian. Ia pun menerima tawaran itu untuk membuktikan dirinya.
Alasan Pensiun: 'Otak Saya Butuh Stimulasi Lebih'
Meski sempat bersinar di Man City U-21, cedera kembali datang. Namun, di balik masalah fisik, ada kegelisahan batin yang lebih besar.
Gabriel merasa dunia sepak bola tidak memuaskan dahaga intelektualnya.
"Saya selalu merasa kurang terstimulasi di sepak bola. Jangan salah paham, saya masih menyukainya. Tapi saya merasa membuang-buang waktu berjam-jam sehari," ungkapnya jujur.
Latar belakang orang tuanya yang akademisi (ayah mantan dosen, ibu arsitek) tampaknya menurun padanya. Ia merasa butuh tantangan yang berbeda.
Menatap Masa Depan di Oxford
Kini, Gabriel telah resmi menanggalkan jersey Manchester City dan beralih menjadi mahasiswa jurusan Hukum di Oxford University.
Baginya, ini adalah investasi jangka panjang yang lebih menjanjikan daripada karier sepak bola di kasta bawah yang tidak pasti.
"Skenario terbaiknya (di bola) Anda bermain 10-15 tahun, setelah itu bagaimana? Saya pikir kuliah akan menyediakan platform bagi saya untuk melakukan sesuatu setidaknya lebih lama dari itu," tegasnya.
Kisah Gabriel Han Willhoft-King mengajarkan bahwa kesuksesan tidak melulu soal menjadi bintang lapangan, tetapi juga keberanian untuk memilih jalan hidup yang paling sesuai dengan panggilan hati dan akal budi. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo